10 December 2015

2015's Albums Of The Year

Silampukau - Dosa, Kota, & Kenangan
Dosa, Kota, & Kenangan
Kalau saya ga salah ingat, ide album dengan tema Surabaya pernah didiskusikan pada sekitar tahun 2008, ketika itu Kharis masih bermusik dengan rekan2nya di Greats. Barangkali ide itu yang akhirnya berkembang dan berakhir sebagai Dosa, Kota, & Kenangan 7 tahun kemudian. Bagi saya ini adalah album yang punya musik, lirik, dan ilustrasi sampul yang artistik. Kata orang ini album folk, saya kurang paham, tapi musiknya kayak gabungan musik chanson dan vaudeville yang dinyanyikan dalam bahasa Indonesia, entahlah. Hal menarik lain dari album ini adalah gaya bernyanyi Kharis dan Eki yang seperti kombinasi nrimo dan ngresulo sekaligus.


Björk - VulnicuraVulnicura
Sudah lama sekali sejak Björk menghasilkan musik yang straightforward tanpa aneka gimmick dan kolaborator yang pretensius hingga akhirnya Vulnicura dirilis di awal tahun 2015. Album ini cocok bagi penggemar Björk secara umum dan penggemar Björk era Homogenic hingga Vespertine. Karena musik dan lirik yang sederhana, saya berharap bukan berarti Björk kehabisan ide untuk membuat musik bagus di album berikutnya.

The Waterfall
Saya ga pernah terlalu suka band ini (My Morning Jacket) karena album2nya membosankan kecuali album yang ini. Dari desain sampulnya saja sudah tidak membosankan apalagi isinya. The Waterfall sangatlah bercita rasa 70an dengan beragam inspirasi dari musik r 'n b, psychedelic rock, progressive rock, hingga funk ala Parliament-Funkadelic dan Led Zeppelin. Tapi jangan salah, hampir semua lagu di album ini easy listening.


4 November 2015

Lost Los Skut Leboys

Album penuh ke-3 Sore berjudul Los Skut Leboys dirilis secara terbatas pada 4 September dan dirilus secara luas pada 31 Oktober 2015. Akhirnya! Ide album Los Skut Leboys sudah terdengar sejak, setahu saya, akhir tahun 2008 hingga terkatung2 begitu lama dalam development hell yang diwarnai pula oleh keluar masuknya personel sore Ade Paloh dan keluarnya Mondo Gascaro (tapi tidak masuk lagi) pada tahun 2012.

Postingan ini saya ketik setelah menyimak Los Skut Leboys untuk ke-3 kalinya secara simultan dan kesan yang saya dapat dari album ini adalah: santai, kurang kohesif, dan sederhana yang menjurus pada kurangnya kedalaman. Ini kesan untuk musiknya saja, bukan liriknya. Barangkali, atau memang, ini akibat kepergian Mondo Gascaro yang merupakan, menurut David Tarigan, produser album2 Sore sebelumnya, Centralismo dan Ports of Lima. Tidak ada lagi kesan megah, tebal, rapi, klasik, dan classy (berkelas).

Beberapa lagu yang sangat saya suka dari Los Skut Leboys antara lain Plastik Kita, Tatap Berkalam, R14, dan Pop Drama. Menurut saya keempat lagu itu masih ada benang merah dari lagu2 Sore yang dulu. Saya sebetulnya berharap lagu cover Fariz RM, Jawab Nurani, dimasukkan ke album ini juga karena nuansanya masih selaras, walaupun sebetulnya sudah dirilis di album kompilasi Sorealist dan album kompilasi cover Fariz RM dan Dian PP yang dijual di KFC.

Mayoritas lagu ditulis oleh Ade Paloh dan beberapa lagu terasa seperti versi sederhana dari lagu2 Marsh Kids, proyek sampingan Ade bersama Sigit Pramudita (Tigapagi) dan beberapa musisi lain yang albumnya dirilis tahun lalu-Sigit juga merupakan salah satu produser Los Skut Leboys bersama dengan Adink Permana. Bemby Gusti juga turut menyumbang beberapa lagu seperti halnya di album2 Sore yang lalu. Echa menyumbang satu lagu dan Awan menyumbang 0 lagu (dan hanya main bass di 1 lagu saja!). Ini adalah fakta yang menarik karena pada awalnya Los Skut Leboys adalah album yang didesain sebagai box-set yang memuat karya kolaborasi semi-individual: enam personel sore (waktu itu masih ada Dono Firman) masing2 membuat mini-album yang berisi 3 - 5 lagu lalu keenam mini album itu dikemas dalam satu box-set. Pendekatan ini mirip dengan proses pembuatan White Album (The Beatles), Fragile (Yes), dan Ummagumma (Pink Floyd).

Sayang ide awal Los Skut Leboys tidak pernah terealisasi seperti yang dikonsepkan karena keluarnya Mondo Gascaro dan entah kenapa tidak diteruskan walaupun tanpa Mondo -jadilah Los Skut Leboys album yang sekarang kita dengar dan nikmati bersama2. Tapi setidaknya proses terciptanya Los Skut Leboys mempunyai cerita sendiri seperti halnya cerita album2 besar luar negeri yang tidak pernah terealisasi secara utuh seperti yang dikonsepkan, sebut saja Smile (The Beach Boys) -walaupun akhirnya dirilis dalam aneka versi, double album Machina (The Smashing Pumpkins) -walaupun juga dirilis tapi sebagai dua single album dengan alur yang berantakan, dan Get Back (The Beatles) -berakhir sebagai Let It Be padahal persiapan, termasuk sampul albumnya, sudah ada.

Sore - Los Skut Leboys