27 May 2009

In The Zone

"The goal of the Dogme collective is to purify filmmaking by refusing expensive and spectacular special effects, postproduction modifications and other gimmicks. The emphasis on purity forces the filmmakers to focus on the actual story and on the actors' performances. The audience may also be more engaged as they do not have overproduction to alienate them from the narrative, themes, and mood".

Von Trier dkk menekankan bahwa inti dari sebuah karya (film) adalah "pesan". Dogme 95 hanyalah salah satu cara ekstrem untuk mencapai cita-cita itu. Setiap orang punya metode berbeda-beda untuk menyampaikan pesan melalui karya. Woody Allen gak pernah membiarkan aktor-aktor yang main di filmnya untuk tahu naskah tokoh lain, aktor dipaksa untuk fokus pada scriptnya sendiri-sendiri. Metode ini diadopsi Omar Rodriguez ketika melakukan take rekaman The Mars Volta; tiap-tiap personel tidak boleh mendengarkan part dari personel yang lain. Rekaman hanya didasarkan pada metronome. Di sisi lain Dewa Budjana hampir selalu merekam albumnya secara live dan hanya menggunakan sedikit overdub di sana sini itupun jika terpaksa. Brian Eno selalu mencari tempat yang "baru" untuk memberi suasana baru pada album yang dia garap. Tahun 1977-1980 dia bawa David Bowie ke German, 1991 dia bawa U2 ke German juga. 2006 Coldplay diajak ke Spanyol + Portugal buat ngegarap Viva La Vida. 2008 U2 dibawa ke Maroko dan smua perjalanan ke tempat "baru" itu selalu membuahkan karya yang dipuji abis-abisan oleh kritikus musik.

Di dunia ilustrasi James Jean konon selalu membawa sketch book kemanapun dia pergi. Tapi bukan berarti setiap sketsa yang dia buat langsung dia publish sebagai karya tematik. Sketsa tetaplah sketsa walopun sketsa itu bagusnya bukan main.

Tiap individu punya metode masing-masing ya itu terserah mereka. Pada intinya yang disampaikan adalah "pesan". Teknik, metode, genre, aliran, gaya dan segala tetek bengeknya hanyalah atribut sampingan. Tapi kenapa sekarang banyak kita denger ucapan-ucapan "Hai, kami band X, aliran musik kami bla bla bla...", "Kami mengusung musik bla bla bla...", "Ini karya gue banget, style gue kayak gini nih...", "gue mau bikin karya vektor ah...", "Ini nih gaya yg lagi trend, aku harus kayak gini...", "Speed painting bla bla bla...". TAI itu semua !


Banyak orang ngikutin gaya, ngikutin style, happening ini itu, sok gaul ini itu ! TAI ! Itu gak salah tapi apa sih yang mau kamu sampein k orang-orang ? Kamu mau bilang "Hoi, aku bisa digital coloring !", kamu mau pamer skill grafis ? Mau pamer skill gitar ? Mau teriak-teriak sampe pita suaramu jebol cuma buat pamer suara ? Buang-buang duit buat bergaya ? Berlomba-lomba ngejar nilai bagus trus jadi dosen ?

Karya, apapun bentuknya, sudah ada sejak dahulu kala. Tujuannya hanya untuk menyampaikan pesan. Record label, sekolah desain, industri hendaknya hanya mengarahkan agar karya tidak keluar jalur dari esensinya. Sekali lagi, MENGARAHKAN, bukan mengatur apalagi memposisikan diri sebagai sang pemberi yang "jika tidak ada kami maka kamu bukanlah apa-apa" !



Bersambung...

7 comments:

kania said...

"Nowadays everybody is trying to be different. Let's be different from them, by being ourselves."

mengutip dari fajri
http://sosiologilakali.blogspot.com/

Radit said...

We can be everything...Ahahahaha

Kimo Allegra said...

stuju mas aku! karya harus menyampaikan pesan hehehe :D

Kimo Allegra said...

rrr... tanyak mas, jawab jujur yah.. karya2ku, apa sudah menyampaikan pesan dan apakah pesan itu telah tersampaikan?

Radit said...

Klo dibahas disini g enak, personal kn. Ahahahaha...

Indah said...

I couldn't agree more!

Radit said...

Hahahahaha...