22 May 2009

In The Musical

Apa sih hubungan antara music dengan sebuah karya (khususnya karya visual) ? Kalo menurut saya sih gak ada hubungannya dan gak bisa dihubung-hubungkan karena memang sudah terhubung. Keduanya gak bisa dipisahkan satu sama lain.

Kenapa Pink Floyd (hampir) selalu menggunakan jasa Storm Thorgerson dalam penggarapan artwork albumnya ? Yes dengan Roger Dean, Radiohead dengan Stanley Donwood, Bjork dengan M/M , Joy Division dan New Order dengan Peter Saville, Blur dengan Stylorogue, U2 dan Depeche Mode dengan Anton Corbijn, Mars Volta dengan Jeff Jordan, di Indonesia kita jumpai Sore dengan Mayumi Haryoto, Dewa dengan Tepan Kobain, Padi dengan UDIsain. Banyak musisi besar memiliki rekan kolaborasi dalam desainnya.

Kenapa pula Steven Spielberg selalu ngajakin John Williams untuk mengerjakan scoring film-film yang disutradarainya ? Begitu pula Tim Burton dengan Danny Elfman. Ada pula Cameron Crowe yang selalu membawa discman, iPod atau apapun alat pemutar music ketika dia sedang menyutradarai filmnya. Quentin Tarantino yg menggemari surf music juga memilih sendiri lagu-lagu yang akan dimasukkan dalam filmnya. Yang lebih parah ya Robert Rodriguez, hampir semua music yang ada di filmnya dia tulis sendiri bahkan beberapa bagian yang bisa dia mainkan dia isi sendiri ! Di Indonesia pun kita dapati film-film produksi Kalyana Shira Film seringkali bekerja sama dengan orang yang sama untuk ngisi ilustrasi musiknya.

Musik dan karya visual meng-generate satu sama lain. Keduanya bisa ngasi mood yang sesuai dengan apa yang ingin disampaikan kalo manusia memiliki kepekaan dengan 2 hal tersebut. Karena alas an itu pula iTunes, Winamp, WMP dan semacamnya punya menu “visualizer”, Karena alas an itu pula banyak musisi yang memiliki visual engineer sendiri ketika manggung. Pesan yang disampein makin mantap karena didukung visual yang sesuai. Madonna gak hanya sekedar nyanyi dan joget-joget di panggung ketika dia njalanin The Confession Tour itu. ZOO TV dan PopMart Tour nya U2 hanya akan jadi tur biasa kalo gak ada bombardir visual dari layar segede gaban itu !

Di dunia film Lars Von Trier dan Thomas Vinterberg mencetuskan pergerakan radikal “Dogme 95” dengan peraturan sebagai berikut:
1.Film harus disyuting di lokasi nyata. Setting dan property tidak dibuat. (Jika butuh property maka carilah tempat nyata dimana property itu ada).
2.Sound dan music tidak boleh diproduksi secara terpisah atau secara khusus. Tidak boleh menggunakan music dan sound kecuali suara-suara alami yang terdengar di lokasi syuting.
3.Kamera harus dihandle dengan tangan. Tidak peduli apakah tangan bergetar ato goyang.
4.Film harus berwarna. Tidak boleh ada lighting. Semua apa adanya.
5. Tidak boleh ada visual efek khusus, filter dan semacamnya.
6.Tidak boleh ada adegan yang dilarang di public (membunuh, penggunaan senjata, dan semacamnya)
7.Tidak boleh ada rekayasa tempat dan waktu (ini untuk menunjukkan bahwa film dibuat disini dan sekarang !)
8.Tidak boleh bertujuan membuat genre film tertentu. Yang diperbolehkan adalah “membuat film” bukannya “membuat genre film”.
9.Output harus ditransfer ke dalam pita Academy 35mm dengan aspect ratio 4:3.
10.Dilarang mencantumkan identitas sutradara.

Dari sekian banyak peraturan yang radikal itu suara dan music menempati urutan ke-2. Itu nunjukin kalo music punya peran penting dalam visual, bahkan dilihat dari sudut pandang yang paling ekstrem sekalipun.



Bersambung…

2 comments:

kania said...

hmm. mungkin ya..
tak bisa dilepaskan karena itu sudah menjadi 1 paket = komoditas pertunjukan.
mungkin di luar sana ada yang bilang juga musik yang bagus bisa memikat pendengarnya tanpa harus ada embel2..
seperti kata lagu siapa tuh video kill the radio star. (sotoy)
tp saya sih fleksibel, malah kadang suka lagu gara-gara video nya. huhu..
maaf ya tiba2 nimbrung..

Radit said...

Ahahaha, gpp kok nimbrung. Makin banyak pendapat makin baik, memang tujuannya itu...