11 July 2009

Even Better Than The Real Thing, Child !


Even Better Than The Real Thing, itu cuma lagu sederhana yang ditulis Paul Hewson a.k.a Bono U2. Lagu milik U2 yang cukup tidak dikenal bahkan gak tembus top 10 Billboard America ! Mungkin satu-satunya yang mencolok dari lagu ini cuma videoklipnya yang -untuk pertama kalinya di dunia- mengunakan rollover rig 360 derajat dan menghasilkan Best Visual Effect di MTV Video Music Award 1992.

Lagu ini pada awalnya punya judul "The Real Thing", namun Bono mengubahnya jadi "Even Better Than The Real Thing". Bono berkata "this was done because the title, as well as the song's lyrics were more reflective of the times we're living in, when people were no longer looking for the truth, were all looking for instant gratification."

Seperti keadaan yang tiap hari kita temui bahwa manusia hanya menerima apa yang mereka terima dan that's all ! Begitulah seterusnya, (kebanyakan) manusia hanya kaleng wadah informasi yang berjalan kesana kemari dengan beragam aktivitas dan profesi. Menurut saya pribadi hanya bayi dan anak kecil lah yang luput dari keadaan ini, dan kita seharusnya meniru mereka !

Bayi jarang sekali menerima, justru seringkali mereka mencari tau. Melempar botol dot bukanlah suatu bentuk kenakalan, bagi saya itu lebih kepada bentuk pembelajaran : Apa yang terjadi ya klo si botol dot aku banting ? Memencet2 tombol HP sembarangan juga bukanlah tindakan yang salah, namanya juga cari tau. Menumpuk beragam barang-barang, berteriak-teriak hanyalah bentuk pembelajaran dan experimen yang tidak patut dihakimi. Saya muak tiap kali melihat orang tua yang begitu kasar pada anaknya, dikit2 dimarahin, dibentak2, disalah2in. Jika gak tau ya diberi tau, jika gak bener ya dibenerin, bukannya malah dihabisi !

Perlu ditekankan bahwa anak kecil sama sekali tidak pernah bermain-main ! Yang mereka lakukan hanyalah mencari tau dan berexperimen dengan tulus. Tidak dengan harapan menjadi nomor satu, tidak dengan harapan ingin dipuji diberi gelar ato apapun. Yang mereka inginkan hanya mencari tau, itu aja.

Hukuman, bentakan apalagi siksaan hanya akan membuat manusia menjadi penakut dan berdiam diri. Manusia hanya akan menjadi kaleng2 kosong dan cuma bisa menerima tanpa bisa berbuat banyak. Setiap dari diri kita tentunya pernah mengalami masa kecil, masa pembelajaran alami yang harusnya kita nikmati. Yang dibutuhkan adalah pengarahan bukan pemaksaan. Dan masa-masa indah tersebut umumnya berakhir ketika kita masuk SD.

Rangking dan nilai harusnya tidak menjadi target utama anak2 kecil yang masi polos itu. Harusnya kita malu kalo kita tidak tau apa-apa, tapi pada kenyataannya lebih banyak manusia yg malu klo nilainya jelek. Hal ini didukung dg sikap orang tua yang cuma kasi duit dan menuntut anaknya dapet nilai selangit. Apa-apaan itu ?! Pada akhirnya mencontek, ngerpek dan semacamnya menjadi budaya agar tidak malu, agar nilainya tidak jelek. Sungguh menyedihkan !

SD dijalani selama 6 tahun, SMP 3 tahun dan SMA 3 tahun. Totalnya kurang lebih 12 tahun kita menjalani pola yang sama sampai-sampai kehidupan statis itu mendarah daging dan menjadi budaya. Ketika kuliahpun yang ditarget hanyalah nilai, IPK. Ketika bekerja yang ditarget hanyalah reward dan jabatan. Rutinitas yang membentuk kita menjadi manusia tamak tapi tidak tau apa-apa. Seorang Kepala Dinas Tata Kota mungkin cuma tau cara berakting di depan atasan dan melakukan cara-cara aneh lainnya agar dia naik jabatan. Tapi mungkin jarang skali dia mencari tau tentang seluk beluk bidang yang digelutinya. Banyak lah hal serupa dimana-mana, di banyak bidang. Dan akan menjadi malapetaka apabila orang-orang seperti itu punya kuasa.

Saya bukan orang yang taat banget pada ritual agama. Tapi Indonesia sbg negara dengan jumlah penduduk Islam terbanyak di dunia harusnya bisa menjadi jauh lebih baik daripada sekarang. Muhammad manusia jauh lebih rendah daripada standar biasa-biasa saja. Yatim piatu, miskin dan buta huruf. Tuhan pertama kali mengirim Jibril pada Muhammad "hanya" untuk menyampaikan kata-kata sederhana : Iqra' (bacalah). Membaca yang tentunya diartikan lebih luas daripada sekedar "membaca tulisan/buku".

Bayangkan saja jika 220 juta lebih penduduk Indonesia "membaca", apakah akan seperti ini keadaan Indonesia ? Apalagi jika kalimat selanjutnya kita ikuti : "Dengan menyebut nama Tuhan-mu". Betapa bagusnya jadinya jika kita semua berusaha mengikuti kata-kata sederhana itu.

Manusia berumur pun kalah jauh dari anak-anak kecil yang selalu "membaca", mencari tau dan mencoba-coba. Dan sekali lagi, yang dibutuhkan adalah pengarahan dan bimbingan, bukan penyeragaman dan pemaksaan.



"You're even better than the real thing, child !"

No comments: