10 February 2010

Single


Single. Single kalo di luar negeri biasanya diproduksi buat nambah angka jualan (promosi). Dipilih lagu yang dianggep punya nilai jual lalu dibikinkan single dan diikuti dengan videoklip, polanya seperti itu sih. Sebuah single biasanya berisi lagu andalan yg diambil dari album sedangkan 2-3 lagu lain berupa lagu yang gagal masuk album atau biasa disebut dengan B-side. Di Indonesia sistem single-single an gini gak ada. Mungkin karena gak cocok sama habit orang Indonesia yang males ribet, maunya gampang. Beli ya beli aja yg lagunya banyak sekalian, lagian kalo diitung-itung sebetulnya beli single lebih mahal daripada beli full album.

Gampangnya gini nih konsepnya single: 'Ente kagak punya duit buat beli album tapi ente doyan abis sama salah satu/beberapa lagu di album itu, nah sini anae kasih CD single isinya ada lagu yg ente suka itu, ana kasih murah buat ente kan ini isinya cuma 4 lagu. Daripada beli album full yang blm tentu smua lagunya ente suka mending beli single ini', nah gitu deh...

Kalo jaman sekarang kayaknya masukin lagu kelas B ke dalam single pun sudah jarang, mungkin dasar pemikirannya adalah 'lagu kelas B mah bisa dimasukin album juga, ntar single diisi lagu remixan aja'. Ya begitulah, jaman sekarang kalo kita amati rata-rata single isinya 1 lagu andalan sisanya adalah remixan dari lagu andalan tersebut, betapa pelitnya industri musik sekarang sampai-sampai jadi seperti ini...

Jaman dulu kita lihat, beberapa lagu hits dari The Beatles itu gak didapati kalo kita beli album, adanya di single, sebut aja All You Need Is Love, Strawberry Fields Forever dan masih banyak lagi. Punya single Beatles gak rugi soalnya lagunya Oke2 dengan produksi yang juga oke. Sampe era '90an juga masih ada lagu-lagu oke yg bisa kita dapet dari single dan format rata-rata single masih tetap konvensional yaitu '1 lagu andalan dan 3-4 lagu kelas B'.

Mendekati akhir '90an format single udah berubah jadi pelit ! Adanya 1 lagu andalan sisa 3-4 lagu ya lagu andalan itu tadi diremix macam2. Dengerinnya gak puas dan tetunya bosen ! Gimana gak bosen, abis dengerin lagu andalan trus lagu berikutnya adalah lagu yg sama dg mixingan beda, ada yg di-remix jeduk-jeduk, ada yg di-remix ulang tanpa vokal, ato lagu andalan itu diulang lagi tapi versi live. Nah terus kemana itu kepuasan punya single dari musisi idola kita ?

Bibit-bibit perubahan format single sampe jadi kayak sekarang ini kayaknya dimulai dari akhir '80an ketika remix me-remix mulai jadi trend. Perkembangan teknologi membuat habit remix-remixan ini jadi makin populer. Di sisi lain industri musik makin gila-gilaan, jualan 1 lagu doang uda bisa dapet duit jutaan, gak perlu jual lagu dalam bentuk fisik pula. Lady Gaga itu bisa jualan 35 juta lagu cuma dari sistem donlod legal dan dia sekarang jadi super terkenal (padahal albumnya cuma kejual 8 juta, jauh bener sm penjualan per lagunya).

Kalo di Indonesia model jualan per lagu ini biasanya disukai Dhani Ahmad, musisi-musisi dari Republik Cinta Management itu gak banyak yg bikin album, mereka bikin lagu aja trus dijual terutama dijual dari sistem RBT dan memang jualan model begini enak juga, gak perlu produksi fisik, gak perlu artwork, gak perlu bikin 10 lagu buat dijadiin album. Jual aja 1 lagu + bikin videoklipnya, jadi deh duit...

Aaahh, mikirin jualan lagu memang memuakkan. Sebetulnya kecintaan saya pada single bukan dari sistem jualannya. Saya banyak dapet inspirasi dari single dan single punya banyak pengaruh positif ke saya (ke industri juga ada pengaruh positifnya sih, hehe). Ada hal positif yang sangat krusial jika sebuah single dimanfaatkan dengan baik yaitu 'IMAGE' ! Yup, sebuah album tentunya (setidaknya bagi saya) bukan sekedar lagu-lagu yang dikumpulin jadi satu lalu dikasih artwork lalu dijual. Mengatur tracklisting (urutan/tatanan lagu) dalam sebuah album kan juga gak ngawur.

Saya termasuk orang yang meyakini bahwa album yang baik adalah album yang menyerupai sebuah paket: Good message + good music + good lyrics + good arrangements + good tracklisting + good artwork + good packaging = Great album ! Saya gak terlalu peduli dengan penjualan karena bagi saya itu gak terlalu penting (pola pikir seperti itulah juga yang membuat saya gak suka mendengarkan lagu, saya jauh lebih suka mendengarkan album dan harus dengan urutan lagu yang benar, kalo gak benar saya gak akan mau !). Nah, faktor pendukung utama paket itu mestinya adalah faktor visual, oleh karena itu cover album punya nilai yang penting. Tapi kadang cover album aja gak cukup buat membangun pesan/maksud yang musisi sampaikan lewat album itu.

Buat musisi yang musiknya gitu-gitu aja sih gak apa-apa toh apa yang dia perbuat melalui albumnya ya bisa ditebak. Lain cerita kalo si musisi ini sukanya berubah-ubah kayak Bjork atau Madonna. Tiap album ada perbedaan dan tentunya harus punya visualisasi berbeda. Dalam hal ini single juga berfungi mendukung promosi tapi bukan promosi jualan melainkan lebuh ke promosi citra/image. Coba lihat gambar-gambar di bawah ini:

Franz Ferdinand - Michael

Franz Ferdinand - Matinee

Franz Ferdinand - Take Me Out

Franz Ferdinand - Darts Of Pleasure

Franz Ferdinand
Artwork dari album pertama Franz Ferdinand yang juga berjudul Franz Ferdinand adalah artwork yang paling bawah, sangat biasa-biasa saja. Tapi jadi gak biasa ketika single-single dari album itu bermunculan dengan artwork seprti diatas dan ditemani dengan videoklip yang gaya visualnya sangat German + Russia + Pop Art + Dadaisme + Vintage. Maka menancaplah di kepala kita bahwa 'Ya ini nih Franz Ferdinand banget !'. Contoh hal serupa adalah Coldplay dengan albumnya X & Y dan Dig Out Your Soul-nya Oasis yang sudah saya bahas di postingan saya tahun lalu (kalo mau liat lagi bisa klik di sini dan di sini) dan juga album Royksopp, Junior:

Royksopp - This Must Be It

Royksopp - The Girl And The Robot

Royksopp - Happy Up Here

Royksopp - Jjunior

Contoh lain yang juga bagus adalah album Blood Mountain sama Crack The Skye kepunyaan Mastodon. Band progressive metal ini punya musik dan tampilan yang oke (mulai dari artwork, video, panggung, website dan hal-hal kecil lain), paket yang oke dan sangat gak norak (gak kayak kebanyakan band-band gahar yang cuma modal gambar darah2 + tengkorak2 + font horror). Check this out deh single dari Crack The Skye kepunyaan Mastodon:

Mastodon - Oblivion

Mastodon - Divinations

Mastodon - Crack The Skye
Franz Ferdinand cuma sedikit dari sekian banyak musisi yang bagi saya memanfaatkan single-single nya dengan baik. Gak semua musisi punya kesadaran seperti itu, gak ada sistem di abumnya jadi gak albumnya keluar dan berlalu begitu saja tanpa kesan. Ada pula yang separuh bagus separuh lagi gak jelas, contoh buat kasus seperti ini adalah Muse dengan The Resistance-nya. Musik and the gang udah bagus, cover album bagus, videoklip bagus, bahkan desain panggungnya gila-gilaan bagusnya (kalo menurut saya) tapi semua elemen-elemen itu kurang konsisten (terutama gara-gara artwork single Uprising sama videoklip Resistance yang gak nyambung sama sistem yang sudah ada) jadinya agak rusak deh tema Outer Space + Conspiracy + Hi-Tech + Classical + Biblical yang ada di The Resistance:

Muse - Resistance

Muse - Undisclosed Desires

Muse - Uprising

Muse - The Resistance

Nah, bagian trakhir saya kasi salah satu contoh yang paling OK dan paling top karena semua aspeknya bagus dan sistemnya terjada bahkan sampai ke stage design + video + lighting + kostum + properti buat konsernya (termasuk juga desain interface DVD konsernya): Madonna dan albumnya Confessions On A Dance Floor. Mulai dari lagu Hung Up yang begitu memorable dan pakaian senam warna pink itu, ya itulah Confessions On a Dance Floor. Diikuti single-single selanjutnya: Sorry, Jump, Get Together, image-nya kuat bener dah pokoknya. '80s Disco + Magenta + Pink + Urban life + Personal lyrics semuanya sukses nancap ke kepala orang dan sukses dijual pula. Jadi bener-bener lengkap dan memang album ini adalah salah satu album era 2000an kesukaan saya hahaha...

Madonna - Jump

Madonna - Get Together

Madonna - Sorry

Madonna - Hung Up

Madonna - Confessions On A Dance Floor
Yaaa, begitulah sekilas tentang single. Ada suka duka yang didapatkan dari sebuah single sebagaimana status orang ketika sedang single, hahaha. Single-lah yang membuat saya gak pernah cuma bikin 1 karya. Saya gak pernah bikin karya cuma 1 doang (kecuali karya untuk tugas dan kerjaan), saya suka bikin dan menikmati karya yang berbentuk serial, ya inspirasinya didapat dari single ini tadi hahaha. Saking besarnya hutang budi saya pada single sampai-sampai hal-hal tentang single ini (sebetulnya) saya masukkan ke dalam laporan Tugas Akhir saya namun akhirnya saya hapus karena saya pikir kurang relevan jika memasukkan ketikan seperti ini ke dalam buku laporan formal untuk Tugas Akhir seorang mahasiswa desain, ahh...

Sekian dulu dari saya, terima kasih untuk semua orang yang meluangkan waktu untuk sekedar mampir dan membaca postingan panjang lebar ini, semoga sedkit berguna. OK, enjoy your day...

No comments: