19 July 2010

Kiblat Bukan Tuhan

Majelis Ulama Indonesia (MUI), begitu mereka biasa disebut. Tiba2 mengeluarkan pernyataan bahwa selama ini arah kiblat di Indonesia adalah S A L A H ! Alasannya adalah bahwa sebenarnya arah kiblat bukanlah barat melainkan lebih condong ke utara sedikit atau bisa juga disebut barat laut.

Tolong ya, saya yakin 200 tahun terakhir sudut Indonesia - Mecca gak banyak berubah dan tampilan di peta relatif sama. Lalu kenapa hal begini baru dipublish sekarang ? Untuk mengetahui arah + sudut kiblat tidak perlu teknologi seharga ratusan juta, cukup buka peta dan ente hitung sendiri pake busur derajat kan bisa, meleset sih pasti tapi paling2 cuma bbrp cm. Kalopun cara itu dianggap terlalu sederhana kan bisa juga pake GPS. Teknologi GPS sudah murah dan bahkan saya punya 1 biji (GPS sederhana biar nggak nyasar di perjalanan. Tinggal point tujuan yg dimaksud maka langsung keluar data2 jarak + sudut + jalan paling efisien menuju kesana).

Tapi teknologi/cara mengukur sudut kiblat bukanlah tujuan saya membuat postingan ini. Semua muslim di dunia tahu bahwa menghadap kiblat adalah salah satu syarat sah-nya shalat. Tapi semua muslim di dunia juga tahu bahwa dalam perjalanan + keadaan sakit kita boleh melakukan shalat dengan cara yg lebih sederhana + dengan isyarat tubuh + bahkan tidak perlu menghadap kiblat. Maka dapat disimpulkan bahwa MENGHADAP KIBLAT BUKANLAH ESENSI SHALAT. Seperti juga perdebatan ttg bacaan + gerakan shalat, itu semua bukan esensi shalat.

Kaum muslim juga pasti tahu kalo zaman dahulu Muhammad Saw pernah memindahkan kiblat dari Jerusalem ke Mecca. Jangankan arah/sudut, kiblatnya sendiri aja bisa dipindah ! Jadi berhentilah mengoceh + memperdebatkan arah kiblat karena yg ente2 lakukan itu sangat tidak esensial ! (Tidak menghadap kiblat bukan berarti kita tidak bisa berkomunikasi dengan Tuhan). Ingatlah juga puluhan doa yang ada dalam ajaran Islam adalah untuk membuat kita ingat pada Tuhan kapanpun + dimanapun + dalam kondisi apapun (termasuk ketika kita buang air sekalipun). Dan percayalah, Tuhan tidak serendah itu untuk kita batasi dalam sebuah dimensi ruang bernama kiblat.

Bbrp waktu lalu saya juga sudah pernah membahas trend manusia yang lebih suka meributkan sistem/cara daripada mencapai tujuan. Itu berlaku juga dalam urusan kiblat2an ini. Kita tahu hal semacam ini jadi trend di segala aspek kehidupan: agama + politik + pendidikan + olahraga + dsb... Kita seharusnya berhenti menperdebatkan definisi yang pada akhirnya cuma mengaburkan esensi. Lebih parah lagi jika perdebatan itu malah menimbulkan kerusakan + perpecahan. Ingatlah, tiada Tuhan selain Allah, kita tidak menyembah kiblat karena kiblat bukanlah Tuhan !

No comments: