3 July 2010

System Error



Entah mengapa saya semakin bosan dengan khotbah Jumat yang temanya itu2 saja: Syarat sah-nya sholat + macam2 orang yang doanya didengar + kebusukan Yahudi + perintah2 dan tata cara ritual dan semacamnya... B O S A N !

Boleh dikata semua orang yang melakukan sholat pasti tau lah bacaan sholat, tau kalo sehari sholat itu 5 waktu, tau kalo pemerintah Amerika itu gak adil kepada kaum Muslim, tau gimana caranya wuhdu dan bersedekah. Lalu buat apa diulang2 terus ? Di sisi lain gak pernah dijelaskan mengapa wuhdu harus seperti itu, apa itu doa, apa itu ritual ?

Sejak balita bolehlah kita menghafalkan segala rupa doa setiap hendak melakukan aktivitas. Trus klo sudah hafal memangnya kenapa ? Toh kebanyakan orang juga melafalkannya sambil lalu. Begitu pula ketika Jumatan, banyak jamaah yang berangkat dengan muka kusut, ketika pulang ke rumah pun malah makin kusut mukanya.

Dampak dari ritual2 tersebut juga gak berasa di kehidupan. Sama juga bohong kalo doanya teriak2 tapi meludah aja sembarangan, buang sampah aja gak pada tempatnya ! Kita terus menerus berteriak sok2an menderita, sok2an ditindas Amerika tapi kelakuan sendiri gak pernah tertib ! Dan yang paling parah: Ketika berdoa bukannya berserah diri pada Tuhan tapi malah memerintah Tuhan ! How dare you !

Doktrin + mispersepsi sejak kanak2 membuat kita mengganggap doa sebagai media meminta2 + menyuruh2 yang akhirnya menjadi habit busuk bangsa Indonesia. Kita menjadi malas berusaha dan dengan ekspresi muka memelas kita menengadahkan tangan lalu menyuruh2 Tuhan mengabulkan kemauan kita. Kalo kita punya keinginan maka berpikirlah posiif + berusahalah agar keinginan kita terpenuhi, jangan malah meminta2 + menyuruh2 Tuhan !

God is great, God is the greatest, always was and will always be...Tuhan selalu memberi kita segalanya kapanpun + dimanapun. Ritual + doa bukan media untuk mengemis tapi media untuk mendekatkan diri: Bahwa kita ini bukan apa2, kita ini tidak berdaya tanpa Tuhan. Dan bagi saya alasan itu pula-lah yang menjadi konsep dasar + penyebab begitu banyaknya doa yang ada (bagi kaum muslim). Menghafalkan puluhan doa itu gampang, tapi gak semua orang mampu mengingat Tuhan di setiap saat. Alasan yg sama juga berlaku pada kalimat "Subhanallah", "Astaghfirullah" dsb yg diucapkan pada momen2 tertentu...Dan jika dirangkum poinnya adalah: Ingatlah pada Tuhan di segala kesempatan + dimana saja !

Lebih disayangkan lagi ketika doa + ritual dijadikan umpan untuk mengiming2i jamaah agar masuk surga + mendapat pahala. Saya rasa sama sekali tidak perlu kita para manusia ini mengharapkan imbalan apa2, lakukanlah saja yang terbaik bagi diri kita + lingkungan, jangan pake pamrih.

Hal yang sama juga berlaku ketika dahulu kita pernah bersekolah: What's the point gitu menghafalkan rumus2yang begitu rumit dengan alasan agar bisa mengerjakan soal2 + agar bisa dapat nilai bagus ?! Dapat seratus soal fisika kalor tapi alasan kalor berpindah gak tahu ya sama juga bohong. Di perkuliahanpun sama, bisa main software segala rupa tapi ngetone warna gak bisa + bikin layout juga kacau.

Hal2 remeh begini dibawa2 pula sampe ke pemerintahan. Pemerintah yang harusnya jadi public service malah seringkali merepotkan publik. Aturan2 yang dibuat bukannya memudahkan publik tapi malah merepotkan + menyebalkan. Manusia tidak perlu merepotkan diri mengahafalkan ini itu + membuat dan menerapkan sistem ini itu yang akhirnya malah jadi beban. Cukup pahami saja apa tujuan/maunya lalu lakukan ! Gak perlu ribet, ato "Gitu aja kok repot" kalo kata Gus Dur.

Kita ini hobi muter2 terus di dunia teknis + sistemik tapi sama sekali gak esensial. Meributkan perbedaan tata cara ritual + meributkan antara kafir dan sesat dengan yang beriman + meributkan software mana yg paling OK + meributkan rumus mana yg paling mujarab untuk mengerjakan soal2 + meributkan tanggal berapa Jan Pieterszoon Coen diangkat jadi gubernur VOC + meributkan cover majalah Tempo + meributkan beli fashion item ini itu tapi dipake di waktu dan tempat yang gak tepat dsb...Dan bodohlah kita semua kalo hidup ini dijalani hanya berorientasi cara/sistem bukannya berorientasi tujuan !

No comments: