30 August 2010

Untitled

Cangkruk (nongkrong) merupakan salah satu aktivitas pembelajaran aktif yang menjadi habit, setidaknya bagi saya dan teman2 terbaik saya. Ngerasani (bergunjing), yang konon katanya gak bermanfaat pun tidak sedemikian nista bagi kami, itu cuma salah satu output dari observasi yang tertuang dalam lisan saja. Tak ada salahnya sedikit main2 disana.

Kopi dan kepulan asap rokok jadi teman, atau mungkin malah jadi penyemangat topik cangkruk itu sendiri. Saya yang tidak merokok dan tidak minum kopi biasanya memilih teh anget ato capuccino sachet-an (dan tentu saja diseduh dulu, bukan lgsg dimakan dr sachet-nya). Keadaan yg sedemikian rupa terjadi lagi sehari sebelum postingan ini dibuat: Cangkrukan bersama2 teman kuliah sesudah buka bersama. Kali ini pesertanya lebih banyak daripada yang biasanya.

Warung di emperan jalan jadi medan diskusi, yang saya lupa siapa yang memulainya, dengan topik Tuhan. Nah lo! Sungguh kurang kerjaan karena saya sebetulnya sudah agak bosan dengan topik yg satu ini. Celetukan2 kecil dari peserta baru terdengar agak konyol, iya, kalimat2 seperti "menyembah Ka'bah" dan "pemeluk Hindu mempunyai banyak Tuhan" membuat saya gregetan.

Bukankah kita ini orang Indonesia, dan dasar negara kita adalah Pancasila?! Dan sudah jelas pula bahwa bunyi sila pertama adalah "Ketuhanan Yang Maha Esa". Lalu darimana tuh asalnya Hindu punya banyak Tuhan? Di Bhagavad Gita juga uda disebutkan bahwa Tuhan itu Esa (perhatikan juga perbedaan antara "esa" dan "satu"). Pertanyaan soal Ka'bah diatas lebih konyol lagi, emangnya siapa yg menyembah Ka'bah? Dan adakah aturan main seperti itu? Bahkan saya pribadi berpendapat bahwa hubungannya dengan Haji adalah lebih seperti sebuah kilas balik. Dan mungkin oleh karena itu dalam bahasa Inggris istilah "pilgrimage" diperbolehkan untuk menyebut ibadah Haji. Dan hubungannya dengan kiblat pun bagi saya tidaklah terlalu penting (saya sudah membahas ini di postingan saya yg lalu2).

Memang, pertanyaan2 seperti itu seringkali kita jumpai. Tp yg membuat saya penasaran adalah kenapa bisa sampai terlontar? Telinga ini rasanya aneh saja mendengarnya, seolah2 Tuhan cuma barang ajaib yang cukup dikalkulasikan saja dalam bentuk bilangan lalu kita suruh dia mengabulkan permintaan kita. "Tuhanku Allah, Tuhanmu siapa?" juga merupakan pertanyaan yang sangat tidak saya sukai, secara saya adalah seorang muslim yg memahami bahwa Tuhan tidak bisa dan tidak boleh diperhitungkan.

Memperjumlahkan Tuhan menjadi banyak ataupun menjadi cuma 1 pun sebetulnya aneh. Firaun pernah bertanya kepada Musa tentang Allah tapi Musa tidak pernah menjawab dengan spesifik. Rumi malah lebih parah lagi, perkataan dan tulisan2nya tentang Allah begitu abstrak dan mengundang multitafsir yang tidak karuan.


Kerancuan pemahaman kita tentang Allah bisa kita ambil contoh yang paling dekat dan mendasar: Syahadat. Apa sebetulnya makna kalimat kalimat tauhid "lâ ilâha illallâh". Mari kita luruskan hal ini:

Salah kaprah 1:
Dalam struktur bahasa Arab dan sekitarnya (dan termasuk sedikit elemen bahasa Ibrani) Allah/Eloh adalah kata yg dimaknai "God/Sesembahan". Tapi entah kenapa translasi bahasa Indonesia-nya menjadi "Tiada Tuhan selain Allah"?! Terjemahan yang tepat untuk kata "Allah" adalah "God", bukan "Lord/Tuhan" . Dalam sejarahnya kata "Tuhan" muncul sebagai terjemahan terhadap kata "Lord" yang sering kita jumpai di Bible, misalnya "Lord God" dan "Lord Jesus". "Lord" = "Tuan" dalam Bahasa Indonesia yang "ditinggikan" derajatnya menjadi "Tuhan". Kata ganti yang tepat untuk "Lord" adalah "Gusti" dalam Bahasa Jawa. Dalam bahasa Arab dan Ibrani "Lord/Tuhan" disebut dengan "Rabbi". Contoh penggunaan kata "Rabbi" dalam Al Quran adalah surat Al Alaq ayat 1: "Iqra' biismi rabbika alladzhi khalaq" yang artinya adalah "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Maha Pencipta".

Kita tengok syahadat orang Yahudi berikut Ini: "Shema Yisrael, Adonai elloihenu echad, Adonai echad". Mirip sekali dengan mainframe Islam di surat Al Ikhlas kan? artinya adalah sebagai berikut: "Dengarkan wahai Israel, Tuhan Allahmu satu, Tuhan satu". "Adonai" = "Master/Lord". Tepat jika diartikan sebagai "Tuhan". Sedangkan "Eloah/Elohim" = "Allah" = "God". Jadi menurut terjemahan yang tepat untuk "lâ ilâha illallâh" adalah "tiada Ilahi selain Allah". Atau "There's no God but God" dalam Bahasa Inggris".

Dari penjelasan diatas sebetulnya Bahasa Indonesia belum punya kata tersendiri yang sepadan dengan "Allah/Eloah/God". "Eloah" merujuk pada entitas tunggal dan seringkali digunakan dengan terjemahan "Saya/Aku/Ku" dalam Bible. Dan "Elohim" merujuk pada plural yang seringkali digunakan dengan terjemahan "Kami". Di Al Quran juga banyak kita jumpai hal serupa. Dan kalo hal mendasar begini aja masih rancu gimana mau dakwah?


Salah kaprah 2:
Terjemahan "Tiada Tuhan selain Allah", selain salah kaprah secara terjemahan juga salah kaprah secara makna, seakan2 Allah adalah nama untuk God/Sesembahan, bukan God itu sendiri. Menurut saya translasi itu adalah kesalahan yang fatal dengan dampak yang fatal pula. Di Indonesia doktrin atau ilustrasi muslim tentang Allah dimulai dari syahadat dan akan terus dibawa hingga dewasa, bahkan mungkin sampai mati! Diperkuat dengan lagu yang sering kita dengar:

"Allah Tuhan saya, Tuhan saya Allah
Kalau bukan Allah, bukan Tuhan saya"

(dinyanyikan dengan irama seperti lagu "Topi saya bundar")

Lagu yang dengan gamblangnya menyatakan "Allah berjumlah" dan "Allah adalah milik manusia". Saya tidak bisa melogika jika, ibaratnya, saya memilih Allah sebagai sesembahan sedangkan teman saya memilih selain Allah sebagai sesembahan. Lalu apa yg sebenarnya kita sembah? Yang kita banggakan malah kepimilikan kita terhadap Allah, bukankah yg seharusnya adalah sebaliknya?

Distorsi tafsir menjadi malapetaka bagi para pecinta Allah tapi ironisnya menjadi konsumsi utama anak2 Indonesia kita. Kita semua tahu di sekolah2 peran Allah digantikan oleh guru, buku dan kurikulum pelajaran agama! Saya berpendapat "Tiada Sesembahan Selain Allah" adalah lebih baik daripada terjemahan yang ada selama ini.

Para pengikut agama samawi bisa disebut sebagai orang2 yang menghargai keilahian Allah dengan memuliakannya tanpa harus mengultuskannya. Yahudi secara explisit melarang segala bentuk pendefinisian Allah dan memiliki sistem penyebutan Allah El- yang diikuti dengan kata sifat yang spesifik. Sistem yang sangat mirip juga digunakan di Islam yang populer sebagai Asma'ul Husna, tujuannya adalah menghindari pengultusan Allah dan penurunan derajat Allah menjadi berhala belaka atau bisa juga diringkas: Secara esensi Allah tidaklah terdefinisikan oleh manusia.

Keterbatasan dan pengetahuan (atau mungkin keingintahuan?) manusia yang bercampur memunculkan Allah konsep. Allah dengan segala atribut pemberian manusia (dan mungkin agama) yang disembah dan dijadikan alat pemenuh kebutuhan. Bagi saya Allah konsep tidak lebih dari sekedar berhala yang dibatasi keterbatasan dan pengetahuan manusia itu tadi. Dan entah kenapa syariat malah terlihat seperti salah satu pengekang Allah?

Keterbatasan manusia-lah yang selalu berkutat dengan bahasa dan definisi lalu membawanya untuk meraba-raba "bentuk" Allah. Bukan hal yang baru, sudah sejak jaman dahulu kala banyak orang yang mentok di ranah bahasa ketika ingin bersua dengan Allah. Para pemikir pun sampe jadi berpikir sederhana dan beberapa diantaranya mengambil kesimpulan: Yang saya tahu hanyalah Dia ada dan saya mencintaiNya.

Segala tetek bengek istilah dan definisi cuma memperkeruh spiritualitas, kita bisa lihat sendiri dampaknya di lingkungan kita. Di abad-12 Ibn Rushd terlebih dahulu mencetuskan pemikirannya "existence precedes essence". Kalimat ini dipopulerkan ke seluruh dunia oleh Jean-Paul Sartre di abad-20 setelah Sartre bergumul dengan pemikiran2nya dalam rentang waktu yang lama.

"Existence precedes essence" adalah reaksi Ibn Rushd untuk "essence preceds existence" yang dicetuskan oleh Ibn Sina. Bagi para existensialis, manusia, dengan kesadarannya, memaknai hidup dan penginderaan yang dirasakannya sendiri. Dengan level kesadarannya pula manusia memperkuat dan memperlemah eksistensinya. Sedangkan esensi bisa saja kita sematkan dimana saja, kapan saja sesuka hati kita semua tergantung level kesadaran kita masing2. Dalam bentuk yang ekstrem sufi agung Manshur Al-Hallaj menjabarkannya dengan sangat singkat sebagai "Ana Al-Haqq" - Kemutlakan adalah saya. Wallahu'alam.




No comments: