10 August 2010

Ramadhan Penuh Kebebasan

Sudah datang lagi bulan Ramadhan, bulan yang menyenangkan, menenangkan dan penuh kebebasan. Bebas? Yoi! Sebagai seorang muslim saya punya pandangan sendiri terhadap puasa di bulan Ramadhan.

Saya tidak suka menggunakan istilah "ibadah" dan "ritual" karena dua kata tersebut punya konotasi yang (entah kenapa) negatif di benak saya. Dan puasa tidak cuma dilakukan di bulan Ramadhan, tidak juga dilakukan oleh muslim saja. Kita semua tahu kalo puasa dianjurkan oleh berbagai agama dan berbagai kalangan akademis sekalipun. Puasa adalah salah satu jalan paling oke untuk mencapai kebebasan dimana manusia menjadi begitu minimalis dan esensial. Jauh dari kecemasan, ketakutan, kekecewaan, kebohongan, kesedihan, kemarahan, dan ke2 negatif lainnya yang selalu membuat manusia menderita dalam kehidupan. Siddhartha Gautama menyadari hal ini walaupun dia bukanlah seorang muslim dan dia memilih menepi, menyepi dari "keramaian" dunia.

Lalu kenapa beberapa muslim (yang sehat fisiknya) malah mengeluhkan puasa? Lebih parah adalah ketika puasa dianggap sebagai beban hidup yang gak karuan beratnya sampai2 pasang tampang kucel dan tak bertenaga. Bukannya saya mau membahas puasa dari segi kesehatan jasmani tapi bukankah puasa, sholat dan sebagainya selalu diawali dengan NIAT?

Salah satu kehebatan Islam dalam mengutamakan esensi adalah dengan menempatkan niat sebelum memulai aktivitas2 yang biasa kita sebut sebagai ibadah. Kalau kita sudah niat ya berarti gak ada halangan apapun kecuali kita meninggal dunia. Dengan alasan yang sama pula saya suka heran dengan ormas2 yang bersikeras menutup tempat hiburan dan men-sweeping miras di bulan Ramadhan. Dengan bejibunnya situs bokep + miras + prostitusi + apa kek namanya... klo udah niat ya kita tidak akan terganggu! Niat is in your head, niat is in your mind and your mind makes it real! Dan sebagai tambahan, puasa + sholat + haji itu should be personal in mind. Remember that!

Kita sangat bersyukur memiliki teladan yang tidak se ekstrem Siddhartha, teladan utama kita adalah Muhammad. Tapi mungkin juga bisa dianggap Muhammad lebih ekstrem lagi daripada Siddhartha. Gimana gak ekstrem, Muhammad itu manusia yang bisa multitasking dengan konsistensi yang luar biasa oke! Sebagai figur spiritual beliau OK, sebagai pedagang OK, sebagai negarawan OK, sebagai ahli strategi perang juga OK, sebagai family-man juga OK. Padahal beliau berasal dari kalangan jahiliyah yang miskin dan terbelakang. How amazing is that, huh?!

Dan melalui Muhammad Allah berpesan "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa". Bisa kita lihat sendiri kalo puasa sudah ada sebelum Islam ada. Dan bisa kita baca sendiri bahwa puasa itu untuk orang2 yang beriman. Dengan perluasan makna "puasa" dan "beriman" maka puasa secara esensial bisa dilakukan oleh semua umat manusia di seluruh dunia dari berbagai agama dan kepercayaan apapun. Betapa asiknya dunia kalo hal itu bisa terjadi ya, hehehe.

Mungkin segitu dulu dari saya tentang puasa. Kita sambung di kesempatan selanjutnya. Selamat menikmati puasa Ramadhan 1431 H. Selamat menikmati kebebasan. Bagi yang non muslim kalo mau ikut puasa juga boleh, mau makan + minum + ntn bokep + dugem2 juga terserah, jangan takut.




Diatas ini adalah 2 artwork saya dalam menyambut puasa Ramadhan dan saya tutup postingan ini dengan quote dari Al Ghazali dan Mansur Al-Hallaj:

"In God, there is no sorrow or suffering or affliction. If you want to be free of all affliction and suffering, hold fast to God, and turn wholly to Him" - Al Ghazali

"Love is in the pleasure of possession, but in the Love of Allah there is no pleasure of possession, because the stations of the Reality are wonderment, the cancelling of the debt which is owed, and the blinding of vision" - Mansur Al-Hallaj

No comments: