30 November 2010

Surreal Madrid

Postingan kali ini segmented bagi para penggemar sepakbola, khususnya La Liga Spanyol. Berkenaan dengan pertandingan El Clasico (Madrid v Barca) semalam, saya jadi ingin berbagi sesuatu tentang salah satu klub sepakbola tersukses di dunia, Real Madrid.

Saya bukan penggemar Madrid, bukan pula penggemar Barcelona. Tapi saya ngefans sama kedua pelatih mereka saat ini (Jose Mourinho + Pep Guardiola). Mourinho sosok yang arogan dan berbakat. Dulunya dia juga pemain bola, tapi sadar dirinya gak bakat lalu dia cari kerjaan lain. Tapi emang jodoh di tangan Tuhan, baliklah Mou ke sepakbola. Dia jadi seorang tukang terjemah bahasa untuk Sir Bobby Robson di salah satu klub di Portugal (lupa nama klubnya, hahaha). Ketika Robson pindah melatih Barca, dia juga mengajak Mou si penerjemah setianya.

Di Barca inilah Mou banyak mendapat ilmu kepelatihan sesungguhnya. Barca sendiri sejatinya adalah klub Spanyol yang sangat Belanda. Dengan sistem Belanda yang pertama kali dibangun oleh Rinus Michels di 70's, Johan Cruijf di 80's, Louis Van Gaal di 90's dan Frank Rijkaard di 00's. Permainan oper satu2 + high possession untuk menyerang ya aslinya dari meneer2 Belanda itu. Cuma orang2 bego aja yang nganggep cara bermain seperti itu adalah ala Spanyol. Spanyol mah cuma tiru2 aja!

Back to Mou. Gak tau gimana critanya akhirnya Mou berhasil jadi pelatih klub profesional. Namanya makin meroket setelah membawa FC Porto juara liga Portugal + UEFA Cup dan dilanjutkan di tahun depannya dengan menjuarai liga Portugal lagi + Liga Champions. Salah satu tingkah Mou yang memorable di Liga Champions ketika lawan MU adalah mengacungkan jari tengahnya ke arah suporter MU dan memberi pernyataan di media "dengan klub miskin saya bisa mengalahkan klub kaya yang dipimpin orang tua (Sir Alex Ferguson)".

Semakin baik nasib Mou, dia dipanggil Roman Abramovich untuk melatih Chelsea. Chelsea pun langsung juara EPL dan beberapa gelar lain di tahun berikutnya. Tapi kegagalan menjadi juara Champiosn membuatnya terpojok dan memilih mengundurkan diri. Mou jadi pengangguran hampir setahun sebelum akhirnya pindah ke Internazionale Milan. 2 gelar di musim pertama dan 3 gelar (termasuk juara Champions) berhasil diraih. Mou bosan dan pindah lagi doski ke Real Madrid.

Sebagai penggemar Mou saya sebetulnya yakin Mou bisa sukses di Madrid. Tapi setelah kepergian Raul Gonzalez Blanco jadi lain ceritanya. Raul di Madrid sudah terlalu menyatu. Sebagaimana Del Piero di Juventus, Totti di AS Roma, Gerrard di Liverpool dan Giggs di MU. Raul raja Bernabeu, bukan cuma modal tampang rupawan dan nama ningrat, tapi dia memang pesepakbola berbakat yang produktif walopun sudah tua, dan satu lagi kelebihannya yaitu rendah hati.

Masalahnya adalah ketika nomor keramat 7 yang ditinggalkan Raul diberikan kepada pemain macam Cristiano Ronaldo! Ronaldo itu super talented tapi shock culture! Dia norak dan gak low profile. Lain cerita misalnya kalo nomor 7 diberikan kepada Kaka atau Van Der Vaart. Van Der Vaart sendiri akhirnya malah dijual ke Spurs (dan permainannya menggila juga disana).

Di El Clasico semalam kita lihat sendiri bagaimana seorang pewaris nomor 7 mendorong pelatih tim musuh. Main keras antar sesama pemain okelah, tapi berlaku keras ke pelatih tim musuh itu sangat memalukan! Katanya sih kekalahan semalem adalah kekalahan dengan skor terbesar bagi Mou, tapi saya yakin dia gak peduli amat. Yang agaknya perlu dipedulikan mungkin adalah bahwa Madrid perlu leader yang kalem.

Barca punya begitu banyak pemain asli Catalan, daerah khusus di Spanyol yang punya sejarah perlawanan panjang dengan kerajaan Spanyol sendiri. Banyak diantara pemain inti Barca adalah pemain low tempramen yang jadi pemain inti Spanyol. Madrid punya beberapa pemain asli Spanyol, tapi barangkali cuma Casillas + Alonso yang oke. Sisanya adalah pemain muda yang baru datang macam Ozil, Khedira, Benzema, Di Maria. Sisanya lagi pemain menyebalkan macam Pepe, Sergio Ramos, Ronaldo. Ronaldo juga musti banyak belajar dari Messiah, sesama pemain muda berbakat tapi relax di lapangan.

Menghina kualitas pemain Madrid adalah hal bodoh, mereka cuma perlu lebih tenang, toh ini juga kekalahan pertama Mou sejak jadi pelatih Madrid. Arwah Salvador Dali, sang pelukis Catalan, bersama Barca, menggilas Surreal Madrid 5-0. Jumpa lagi di El Clasico berikutnya, di Santiago Bernabeu. Selamat bulan Desember :)

2 comments:

Anonymous said...

ok, tulisan anda ini bagus. saya setuju... tetapi ada satu yang saya tidak sependapat.

yaitu pernyataan berikut :
" Permainan oper satu2 + high possession untuk menyerang ya aslinya dari meneer2 Belanda itu. Cuma orang2 bego aja yang nganggep cara bermain seperti itu adalah ala Spanyol. Spanyol mah cuma tiru2 aja! "

permainan barcelona bukan ala belanda atau spanyol... tetapi ala barcelona. kita lihat ajax atau PSV eindhoven yang maskotnya liga belanda, permainan mereka tidak seperti barca, atau timnas belanda sekalipun jauh dari barca.... kita lihat saja contohnya messi, dia tidak bisa bermain seperti di barca saat memakai kostum argentina. nah, sepertinya permainan barca adalah mutlak trademark mereka sendiri.... justru timnas spanyol yang terpengaruh permainan barca dengan dominasi xavi dan iniesta....

tentang barca terpengaruh gaya belanda , ya, tapi hanya sekedar rotasi posisi yang lebih flexible yang kebanyakan orang menyebut " total football" . tentang gaya permainan tetap saja saya menyebutnya ala barca karena saya tidak bisa menemui pemainan semacam itu di klub manapun. henry, yang datang dari arsenal , tidak bisa menerapkan permainan arsenal, begitu juga ibra, dll.

permainan barca era guardiola merupakan squad terbaik sepanjang masa klub catalan ini. kita tidak akan menemukan di era2 yang lain.
era masa lalu dengan maskot brazil, romario, ronaldo, rivaldo, ronaldinho.... saya melihatnya sangat berbeda sekali dengan era saat ini, dan saya menjamin tidak akan sama dengan era2 mendatang...

saya bukan penggemar barca tetapi saya mengagumi permainan barca dan sekali lagi menurut saya mereka memainkan barca style bukan yang lain.

salam

Radit said...

Good good good. Memang permainan tikitaka begitu sudah gak dipakai lagi oleh Belanda. Baik di tim nasional mupun klub2 iconic seperti Ajax + PSV.

Tapi begitulah cara mereka bermain dulu ketika Rinus Michels mencetuskannya di taun 70an. Main satu2 dg skuad yang mobile dan 1 atau 2 orang perusak macam Johan Cruijff. Begitulah Total Football bekerja, selama ini banyak yang mengira Total Football itu total attack yang cepat dan pragmatis, padahal yang seperti itu adalah Inggris dg Kick & Rush-nya.

Dan karena faktor kultur Belanda itu pula Johan Cruijff membela Spanyol di final World CUp 2010. Juga dg alasan yang sama Pep mendedikasikan kemenangan 5-0 atas Madrid kepada Cruijff.

Have a nice day :)