20 April 2011

We Are The Universe

Siapa yang gak tau Twitter? Saya juga salah satu diantara jutaan penduduk Twitterland kok. Twitter, seperti beragam social media lain, memang menyenangkan sebagai tempat nyampah - begitulah saya menganggapnya. Tapi ada juga lho yang menganggap Twitter sebegitu seriusnya hingga Twitterland jadi tempat "to impress", bukan "to express": Twitter is the new reality!

But, hey, what is reality? Setiap manusia bisa membuat akun di beragam social media, memainkan game online dan semacamnya, living in digital world. Memasang dan mengedit wajah, menyortir pernyataan yang akan di share, memilih foto yang bagus untuk dipajang, membeli pakaian yang bagus lalu di upload via Plixi, etc... Your screen name is yourselves.


Radit Androgyny (RA) adalah nickname yg paling sering saya gunakan, RA si penduduk Twitterland yang banyak bacot, RA yang aktif ketika saya di depan monitor komputer tapi bisa tetap aktif pula ketika di-mention dan di-RT. RA dan semua pengguna timeline di beragam social media bisa melintasi ruang dan waktu: membuat yang dulu terakses kembali dan men-sekarang-kan yang akan terjadi, apalah artinya timeline? Toh saya bisa menyimpannya via favorite dan membaginya ke penduduk dunia maya semau saya.


Who the hell is RA? RA bisa menjadi siapa saja di dunianya, tapi tentu tak bisa berbuat apa2 di level kehidupan saya. Saya manusia sedangkan RA dan akun2 di dunia maya hanyalah avatar. Akun dan AI di game2 bisa saja berbuat semaunya dg sedikit pemrograman tapi tuannya tetaplah para manusia. Lalu siapakah manusia?


Manusia ya kita ini. Tapi kalo RA dkk adalah penduduk dunia maya terus para manusia ini penduduk mana? Penduduk bumi? Saya juga gak tau. Saya gak pernah tau manusia hidup dimana? Apa yang membuat kita merasakan hidup? Consciousness? Apa manusia cuma avatar dengan level consciousness yang lebih tinggi daripada akun2 di dunia maya? Bagi saya: iya!


Sebagaimana RA yang bisa dikenal oleh kawan2 saya di dunia fisik, saya, secara fisik, juga bisa saja dikenal di dunia non-fisik yang lebih tinggi sebagai pribadi yang lain. Muhammad pernah diejek oleh masyarakat karena bercerita bahwa beliau berpindah dari Mecca-Jerusalem-Langit #7 lalu balik lagi ke Jerusalem-Mecca dalam waktu hanya semalam. Di perjalanan beliau berjumpa Musa, melihat isi neraka dan bahkan berdialog dengan Tuhan! Tentu itu bukan perjalanan fisik, itu perjalanan non-fisik. Secara fisik Musa juga sudah lebih dahulu tiada, jadi Musa dan Muhammad berjumpa dalam keadaan tanpa fisik (karena fisik Muhammad ada di Mecca). Fisik ini kan memang cuma avatar dari bentuk consciousness kita sendiri yang levelnya lebih tinggi.


Tentunya susah sekali mengakses level consciousness yang lebih tinggi karena barangkali harus melewati banyak tahap/syarat. RA sebagai akun pasti juga akan kesepian di dunia maya kalo gak pernah "bikin ulah". Tapi kenapa RA bisa dikenal di level consciousness yang lebih tinggi (di dunia fisik)? Mungkin karena dia istimewa dan bisa memaksimalkan potensi yang ada di tempat dia berada: dunia maya. Saya rasa Musa, Jesus, Muhammad, Siddhartha adalah sedikit manusia yang mampu dan mau mengakses level consciousness yang lebih tinggi. Tidak berartinya ruang + waktu hanyalah konsekuensi yang didapat setelah kita bisa mengakses level yang lebih tinggi sebagaimana Muhammad berpindah dan naik level dalam waktu semalam saja, sebagaimana Tony mengarungi imaginarium sampai larut waktu dan kembali ke dunia fisik seperti baru lewat beberapa menit saja, seperti Neo nyasar ke Matrix dan leluasa berbuat ini-itu lalu kembali ke dunia fisik dalam keadaan baik2 saja.


Apa artinya waktu? Antiphon pernah berkata "waktu bukanlah realita, waktu hanyalah konsep/parameter/ukuran" dan memang begitulah adanya. Sialnya banyak sekali manusia yang menyamakan waktu sebagai benda panjang bernama timeline. Menurut saya waktu bukanlah bentuk dan istilah time traveller pun bisa dikatakan gak valid. Gak ada yang istimewa dengan waktu. RA bisa mengakses masa lalu pada timeline sesuka hati, manusia juga bisa mengakses waktu sesukanya karena waktu adalah kumpulan sekarang yang berjumlah tak terbatas, kumpulan momen dan kemungkinan yang gak bisa kita bayangkan berapa jumlahnya. Menurut Julian Barbour "Change merely creates an illusion of time, with each individual moment existing in its own right, complete and whole..." saya setuju dengan dia.


Tapi kenapa banyak orang malah terlalu attached dengan dunia maya padahal lebih enak menikmati hidup di dunia fisik karena bisa lebih bebas dan ekspresif. Kenapa juga banyak orang terlalu attached dengan dunia fisik kalau di level yang lebih tingi kita bisa lebih bebas lagi, lebih indah lagi? Coba tanyakan pada Jesus mengapa beliau bisa mengubah tanah menjadi burung, merubah air menjadi anggur, dsb... Ya karena Jesus sudah bisa mengakses level consciousness yang lebih tinggi jadinya beliau bisa berbuat semaunya di level yang lebih rendah.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa mengakses level consciousness yang lebih tinggi? Barangkali berkontemplasi dan berpuasa adalah beberapa cara diantara banyak cara yang lain. Musa berdiam di gunung Sinai selama 40 hari hingga akhirnya bisa mengakses Tuhan, Siddhartha bertapa di bawah pohon Bodhi, Muhammad berdiam di gua dan masjid dan banyak lagi contoh yang lain. Klise ya? Memang. Coba saja kamu bergaul dengan para yogi, kabbalist, sufi paling ya gitu2 aja jawabannya, gitu2 aja caranya, cuma beda di metode, essence-nya sama. Di budaya pop dikenal yang namanya LSD, zat yang diyakini bisa membawa manusia ke level consciousness yang lain (bukan mabuk lho ya!). Sebetulnya penggunaan zat2 tersebut sudah dikenal juga oleh orang2 kuno: para Sadhu di India dan Bangladesh diberi hak istimewa untuk menggunakan ganja dengan tujuan transendental, Timothy Leary memetakan pengaruh LSD di tahun 50an dan baru booming di tahun 60an, sebelumnya ada juga Aleister Crowley dan masih banyak yang lain.




Lalu bagaimana dengan ruang? Saya gak tau. Tapi saya berkeyakinan bahwa fisik mati ya gak apa2. RA bisa saja mati jika Twitterland hancur, Niko Bellic bisa saja terbunuh di Liberty City tapi saya kan tetap ada di dunia fisik. Kalo fisik saya hancur ya saya tetap ada di level yang lain lagi dan begitu seterusnya, berlaku bagi siapa saja (yang memenuhi syarat untuk bisa ada di beragam level consciousness).

Saya, secara fisik, adalah apa yang saya pakai, yang saya produksi, yang saya lakukan, yang saya ulang dan ubah di berbagai kesempatan, yang dinilai orang dari beragam akun dengan nickname RA. David Bowie adalah Ziggy Stardust, Aladdin Sane, Diamond Dog, etc... Paul Hewson adalah sang aktivis HAM, Mr. MacPhisto, The Fly, atau lebih dikenal dengan nama sederhana: Bono. Anak DKV yang belajar branding pasti juga tau tentang pemberian "personality" pada entitas2 mati: kota, kemasan kaleng, bank, TV, dan beragam banda mati yang lain, anak DKV punya tugas menghidupkan benda mati melalui beragam strategi. Luar biasa ngawurnya ya, tapi itulah yang terjadi. MTV Indonesia mungkin jelek, MTV UK belum tentu sama jeleknya, MTV US dikenal liar dan kreatif, tapi semuanya tetaplah MTV. Lalu siapakah saya? Sudah saya jelaskan tadi di awal paragraf. Intinya level consciousness yang lebih rendah ya bagian dari level yang lebih tinggi. Saya, di level yang lebih tinggi, barangkali adalah kumpulan dari beberapa "saya" lain yang ada di beragam momen waktu, di level yang lebih tinggi ada lagi yang lebih besar dan meliputi banyak hal dan seterusnya hingga sampai pada level consciousness yang paling tinggi.


Sounds like an atheist stuff? Gak tau ya, yang jelas saya yakin Tuhan itu ada tapi bukan sebagai pencipta melainkan sebagai syarat bagi keberadaan beragam consciousness di berbagai level. Mungkin Tuhan adalah puncak dari segala consciousness, bukankah Allah adalah Tuhan Semesta Alam, Tuhan Yang Meliputi Segala Sesuatu, Yang Mengetahui Apa Yang Di Langit Dan Apa Yang Di Bumi. We live within God, we are the universe.



"The idea of time is only in your mind. It is not in the Self. There is no time for the Self. Time arises as an idea after the ego arises. But you are the Self beyond time and space; you exist even in the absence of time and space." - Sri Ramana Maharshi



Saya kasih penutup ya, penutupnya berupa hiburan saja:
"We are the universe, observing itself. We are the universe, destroying itself..."



Thx for reading and have a nice day :)




No comments: