19 June 2012

Guruh Gipsy

Guruh Gipsy.Guruh Gipsy.
 

Album legendaris Guruh Gipsy oleh band legendaris Guruh Gipsy release tahun 1977. Oleh Rolling Stone Indonesia album ini ditempatkan di posisi ke-2 (setelah Badai Pasti Berlalu) dalam daftar album terbaik Indonesia sepanjang masa.

Postingan ini tidak akan memuat sedikit pun lagu Guruh Gipsy melainkan hanya bookletnya saja yang terdiri dari 32 halaman dan didesain sedemikian rupa sehingga betul-betul seperti buku. Halaman pertama dan kedua booklet diisi oleh sebuah foto lautan yang diberi tulisan "Musik kami lahir dari keprihatinan", diikuti dengan bab Sekapur Sirih dan Sedikit Tentang Gamelan & Musik Barat. Selanjutnya dilanjutkan dengan deskripsi/latar belakang dari setiap lagu dan juga cerita proses rekaman album ini (yang dimulai pada bulan Juli 1975 hingga Febriari 1976 untuk recording dan baru tuntas di-mix pada bulan November 1976). Proses rekaman yang begitu lama dan melibatkan banyak session musician hanya menghasilkan 6 lagu saja: Indonesia Maharddhika, Chopin Larung, Barong Gundah, Geger Gelgel, Janger 1897 Saka, dan Smaradhana.

Sedangkan satu lagu lagi, Sekar Ginotan, seringkali muncul sebagai bonus song di beberapa edisi piringan hitam. Almarhum Chrisye pernah bercerita bahwa Sekar Ginotan tidak masuk dalam final songlist karena mood-nya kurang kuat.

6+1 lagu tersebut direkam di studio Tri Angkasa, Jakarta Selatan yang katanya pada waktu itu adalah studio musik paling canggih di Indonesia dan menggunakan sistem 16 track. Tercantum di booklet sekilas informasi tentang proses rekaman lagu Geger Gelgel yang melibatkan hingga 20 additional player, sedangkan untuk lagu Indonesia Maharddhika hanya melibatkan personel Guruh Gipsy tanpa additional player tapi untuk keyboard dan gitar saja memerlukan 200 take! Kesemua lagu masuk dalam 1 album (satu-satunya album Guruh Gipsy) dan cuma dicetak 5000 keping kaset saja. Sedikit ya. 

Ada 2 hal yang seringkali luput dari perhatian pecinta Guruh Gipsy padahal dua hal tersebut tercantum di cover albumnya:  

1. Kaligrafi Dasa Bayu
Di dalam ajaran Hindu Bali Dasa Bayu adalah 10 huruf utama yang merepresentasikan 10 penguasa alam antara lain:
I menyimbolkan Sanghyang Sadasiw
Ha menyimbolkan Sanghyang Wisnu
Ka menyimbolkan Sanghyang Mahadewa
Sa menyimbolkan Sanghyang Brahma
Ma menyimbolkan Sanghyang Iswara
Ra menyimbolkan Sanghyang Maheswara
La menyimbolkan Sanghyang Rudra
Wa menyimbolkan Sanghyang Sangkara
Ya menyimbolkan Sanghyang Sambhu
U menyimbolkan Sanghyang Sadasiwa

Selain itu setiap urutan huruf pun memiliki makna tersendiri sebagai berikut:
I-Ha bermakna "kejadian", Ha-Ka-Sa bermakna "kekosongan",  Ma-Ra bermakna "baru", La-Wa bermakna "kebenaran", Ya-U bermakna "keabadian". 

2. Indonesia Maharddhika
Lirik lagu Indonesia Maharddhika adalah satu-satunya yang tercantum di booklet dan disandingkan dengan foto lengkap seluruh personel. Uniknya lirik lagu Indonesia Maharddhika diawali dengan huruf-huruf yang diambil dari semua personel Guruh Gipsy:
Om awighnam astu
Dingaryan ring sasi karo
Rohinikanta padem
Nicitha redite prathama
Kilat sapta tusteng natha
Nanta mami magawe plambang
Aku dengar deru jiwa
Bagai badai mahaghora
Di nusantara raya
Cerah gilang gemilang
Harapan masa datang
Rukun damai mulia
Indonesia tercinta
Selamat sejahtera
Gunung langit samudra
Ruh semesta memuja


Lirik lagu yang lain dibuatkan buku terpisah dari booklet utama album, kesemuanya ditulis oleh Guruh Soekarnoputra dengan mengambil inspirasi dari tembung Jawa dan mengambil tema utama kontaminasi kultur barat yang mulai merasuki Bali dan perlahan membuat Bali "lupa". Hal ini sangat kelihatan dari penggalan lirik lagu Chopin Larung:

"Chopin ten uning ring Bali, wong putih mondok ring Kuta. Asing lenga lali ring Widi tan urungan jagi manemu sengkala" yang kurang lebih artinya adalah sebagai berikut:
"Chopin tidak tahu tentang Bali (sebagaimana) orang putih (bule) yang tinggal di Kuta. Melupakan Tuhan akan membawanya (Chopin) pada malapetaka"

Lirik yang lebih eksplisit kita dapati di Janger 1897 Saka:
"Tari Legong jaman masyhurnya di Saba (-Kedaton) dipersingkat demi selera penonton. Wingit Barong dan Tari Keris sering sekedar tontonan turis. Kekhusukkan upacara Melis sering terganggu jepret lampu blitz... Art shop megah berleret memagar sawah, cottage mewah berjajar di pantai indah"

Daftar personel lengkap Guruh Gipsy adalah sebagai berikut (urut sesuai yang terdapat di booklet):
Aumar Naudin Nasution (Oding) - memainkan gitar
Christian Rahadi (Chrisye) - memainkan bass dan vokal
Abadi Soesman (Abadi) - memainkan synthesizer 
Zahrun Hafni Harahap (Roni) - memainkan piano dan keyboard
Rada Krisnan Nasution (Kinan) - memainkan drum dan vokal
Muhammad Guruh Irianto Sukarno Putra (Guruh) - memainkan piano, gamelan dan menulis lirik

Booklet diakhiri dengan bab Terima Kasih dan diikuti oleh tulisan "Musik kami silam untuk suatu kelahiran" yang dibubuhkan pada foto lautan.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca dan selamat Hari Raya Pagerwesi 1934 Caka - 2012 Masehi.

3 comments:

Ayos Purwoaji said...

Ini postingan super, Bapak Radit. Tapi untuk terjemahan Chopin Larung, Bapak menulis; "Melupakan Tuhan akan membawanya (Chopin) pada malapetaka" apa bukan sebaliknya "Melupakan Tuhan akan membawanya (Bali) pada malapetaka"?

Mohon pencerahannya Bapak Radit yang aduhai.

Rahadityo Mahindro Bhawono said...

Halo.

Kalo menurut penafsiran saya sih sebetulnya mengacu pada "Chopin ten uning ring Bali, wong putih mondok ring Kuta", jadi kalimat berikutnya adalah lanjutan yang menerangkan tentang Chopin (wong putih/bule).

Hana Nuraini said...

Saya suka banget sama lagu-lagu di album Guruh Gipsy, terutama Chopin Larung, serius..merinding dengernya. Untung dapet terjemahan, kalo ndak, bingung juga karna saya ga paham bahasa Bali, hehehe... saya sepakat dengan Pak Radit, kalo penafsiran lirik "melupakan Tuhan akan membawa malapetaka", ditujukan kepada wong putih...