7 January 2013

Cloud Atlas


Tak aneh jika butuh waktu lebih dari empat tahun untuk mewujudkan film yang diadaptasi dari novel karya David Mitchell ini. Saya sendiri sudah menunggu sejak lama, sejak film ini masih dalam wujud isu/rumor akan digarap. Tapi hasil penantian ini ditebus dengan manis dan memberikan kesan yang dalam: kompleks, liar dan sekaligus introspektif -setidaknya bagi saya.

Banyak hal tak terduga disini, apakah visual, penokohan maupun visual. Efek visual yang dipakai tidak bombastis tapi sangat membantu menguatkan cerita, dan lebih terbantu lagi dengan ilustrasi musik yang brilian dari Tom Tykwer, Johnny Klimek & Reinhold Heil. Scoring Cloud Atlas memang mencuri perhatian karena mampu memeluk ke-enam cerita di enam era yang rumit itu dalam motif/tema yang memorable dan dramatis.

Sekilas, durasi tiga jam dengan enam cerita di enam era berbeda sudah membuat calon penonton malas mikir dan takut bosan (trailernya aja hampir enam menit!). Setiap cerita punya kedalaman masing2 dan tidak semuanya benar2 "berat" di tema. Kesemuanya tersusun dengan rapi dalam narasi yang diceritakan seorang manusia lembah primitif yang hidup di tahun "106 winters after the fall" atau sekitar tahun 2321 masehi.

Kritik sosial? Tidak juga. Imajinasi sosial? Iya. Film dystopian macam ini selalu berhasil mengusik pikiran saya seperti halnya Children Of Men, The Matrix Trilogy, Gattaca, 12 Monkeys maupun Artificial Intelligence. Film ini meninggalkan saya dalam bengong dan khayalan yang nyaris kurang berguna jika saya obrolkan bersama orang lain. Diproduksi secara independen memang, tapi film ini "kaya", bagi saya tentunya.

No comments: