9 January 2013

Holy Mother Earth, Holy Mother Nature

Sejak ribuan tahun yang lalu wanita dipuja berbagai suku bangsa, bukan karena belahan dada dan selangkangannya tapi dari alamiahnya yang "mengandung" dan "merawat". Ini memang hal kuno dan berbau pagan. Tapi tidak perlu juga kita terlalu dalam mempelajari, dari yang mudah diingat kepala saja istilah "ibu" dan "dewi" sering dijumpa, misalnya: Di India setidaknya kita bisa dapatkan dua "ibu/dewi" yaitu Bhūmī-Devī (dewi) dan Durga (dewi), Ninsun (dewi) di peradaban Mesopotamia, Terra (dewi) di peradaban Romawi kuno, Gaia (dewi) di peradaban Yunani kuno, Isis (dewi) di peradaban Mesir kuno dan masih banyak lagi.

Holy Mother Earth, Holy Mother Nature
Penghormatan kepada wanita tidak berhenti di jaman kuno2 itu tapi terus berlanjut ke jaman semi-modern. Banyak negara besar menggunakan wanita sebagai personifikasi, contohnya: Britannia (dewi) di Inggris, Columbia (dewi) di Amerika, Bharat Mata (wanita) di India dan Amaterasu (dewi) di Jepang. Di Indonesia sendiri ada yang namanya Ibu Pertiwi dimana "pertiwi" berasal dari bahasa Sanskrit, "prithvi", yang artinya adalah "ibu bumi/mother earth". Variasi dari kata "pertiwi" adalah pratiwi yang artinya "dunia/bumi wanita".

Penghormatan pada wanita dalam bentuk simbol ini sekilas berkurang seiring mendunianya agama samawi padahal sebetulnya masih ada sisa2 juga. Agama Yahudi misalnya, tidak akan sah seseorang dianggap Yahudi kalo ibunya bukan Yahudi. Di Kristen ada pula sosok Maria yang memberikan kelahiran Jesus tanpa kontak sex (mirip dengan kelahiran ajaib Krishna dari Devaki dan kelahiran Horus dari Isis), tapi yang paling mainstream ya kisah Maria Magdalena yang banyak dibumbui paganism.

Di negara2 Arab yang konservatif malah ada aturan2 yang cenderung mengekang wanita seperti dilarang menyetir mobil, dilarang mengenakan celana (karena celana dianggap pakaian laki2), bahkan ada negara Arab yang melarang penduduk wanitanya bekerja (karena bekerja itu kewajiban laki2). Di Indonesia sendiri (Aceh) sempet heboh larangan dibonceng dengan posisi ngangkang. Aneh sekali ya padahal dulu Cut Nyak Dien (tokoh pahlawan Aceh) juga ngangkang pas naik kuda. Dulu juga poligami bertujuan membantu janda secara legal (sah dalam pernikahan) sekarang malah jadi legitimasi untuk menyalurkan birahi. Dalam salah satu hadist juga disebutkan bahwa "surga ada di bawah telapak kaki ibu" dan yang harus lebih dihormati adalah ibu daripada bapak.

Dari penjelasan di atas maka begitu ironis dan gobloknya kita sekarang atas maraknya kasus perkosaan seperti di India dan Afrika Selatan, juga hendak diberlakukannya larangan2/aturan2 tak masuk akal yang diberlakukan pada wanita agar tidak diperkosa laki2. Kalo kita extrem, bugilnya seorang wanita bukanlah alasan untuk memperkosanya. Atau misalnya; Lamborghini nganggur dengan pintu terbuka dan kunci menancap bukanlah alasan bagi kita untuk mencurinya kan?

Tapi faktanya, jangankan memperkosa wanita, sandal jepit di Masjid aja bisa ilang pas sholat Jumat kok. Apa lalu ide "dilarang pake sandal jepit ke Masjid" adalah solusi? Punya pikiran kotor itu manusiawi kok, wajar. Menindaklanjuti pikiran kotor itu juga wajar asal dengan cara yang tidak merugikan, misalnya: lagi napsu terus masturbasi, pingin punya sandal bagus kayak yang di Masjid terus beli sendiri. Yang tidak wajar itu menindaklajuti pikiran kotor dengan cara yang kotor: memperkosa, mencuri karena kepingin. Sederhana, mudah meriah kan?

Coba tengok orang2 kuno yang begitu menghormati wanita, masak kita kalah sama orang kuno? Jangan malu2in, jangan ndeso, ndak ilok lho dilihat Ibu Bumi.

No comments: