5 August 2013

Fitrah

Suasana Ramadhan pas saya masih kecil dulu sangat jauh berbeda dengan saat ini. Saya kurang tau kenapa, entah karena saya makin abstrak atau memang laju zaman makin tak ternalar oleh otak. Dan sebetulnya bukan cuma suasana Ramadhan saja yang terasa semakin tidak terasa, suasana Idul Fitri juga semakin tidak menarik (kecuali part dimana kita berkumpul bersama keluarga sembari menikmati kastengel). Saya cuma ingin sedikit berbagi beberapa hal yang membuat saya agak resah terhadap perubahan suasana ini:

Saya tidak lagi merasa bahwa puasa Ramadhan adalah hal yang harus dilakukan saat Ramadhan saja. Berdasarkan pengertian yang saya pahami, kegiatan puasa adalah proses yang akan masih terus berlanjut selama kita masih menghidupi dunia materi ini. Begitupula dengan Idul Fitri; jargon "meraih kemenangan", "menuju kemenangan" dan semacamnya makin lama malah makin mirip tagline toko retail -tidak menarik, dan karena tidak menarik jadinya saya juga tidak peduli lagi. 

Nalar manusia memang terbatas, tapi secara nalar "kembali ke fitrah" adalah hal yang mustahil selama kita terikat oleh dunia materi. Saya punya quote favorit dari Imam Ali "Simple life doesn't mean that you should own anything but that nothing should own you» inilah fitrah, keadaan yang baru pernah kita alami satu kali yaitu saat sebelum dilahirkan -SAAT SEBELUM DILAHIRKAN, bukan SETELAH LAHIR. Dan tentunya akan kita alami lagi KETIKA MATI. Apa lalu saya menyarankan agar kita segera mati? Tentu tidak. Apa gunanya mati kalau saat mati masih memikirkan dunia materi; harta, jabatan/pekerjaan dan bahkan keluarga atau apapun yang terlintas di benak kita? 

Selama jiwa raga masih terikat materi maka kita akan "nyantol", stuck saja di zona yang saya tidak tau apa namanya, atau singkat kata sistem alam tidak akan menerima kita kembali (fitrah=kodrat, alami/natural). Tapi saya yakin bagaimanapun juga kita akan kembali selaras dengan sistem alam karena dari dirinya-lah kita ada dan kepadanya-lah kita akan kembali. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa selaras menyatu dengan sistem alam? Salah satunya ya dengan berpuasa itu sendiri. Tapi ada pula beberapa cara lain yang menurut saya perlu.

Sejauh ini saya masih merasa bahwa hidup di dunia materi ini hanya sekali saja. Dan selama kita terjebak di sini berarti kita harus sadar dulu bahwa ini bukanlah dunia yang semestinya. Kita juga harus sadar dulu bahwa kita perlu sadar. Caranya yang sederhana adalah dengan menanam ritme dalam alam bawah sadar. Bisa dilatih dengan reciting/berdzikir terus menerus dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun. Ini sangat susah karena kita punya seabrek aktivitas, tapi saat kita sedang "sadar/ingat" maka isilah dengan dzikir. Menurut saya ini adalah esensi dari begitu banyaknya doa sebelum/sesudah beraktivitas; "sadar/ingat". "Sadar/ingat" membuat kita jauh dari perilaku "lupa". Sederhana.

Tahap selanjutnya adalah menjaga diri agar tidak terlalu terikat/bergantung pada materi; kita datang tanpa pakai dan membawa apa2, begitupula ketika mati. Berikutnya adalah menjaga dan memberi manfaat pada alam beserta isinya; hutan, gurun, isi bumi, planet lain, sesama manusia, hewan, dsb. Karena manusia adalah khalifa, jangan sampai kita jadi khalifa gagal yang justru merusak alam seisinya; "Earth provides enough to satisfy every man's needs, but not every man's greed" - Mahatma Gandhi.

Janganlah juga kita berbuat manfaat karena ingin atau takut dengan ganjaran, sistem alam itu mengondisikan sedemikian rupa agar tetap seimbang; kalau kita merusak ya kita sendiri juga yang akan rusak, kalau kita menjaga ya kita akan terjaga. Akibat adalah konsekuensi yang tak perlu kita pikirkan. Rabia Al Basri/Rabia Al Adawiya pernah berkata "I want to put out the fires of hell, and burn down the rewards of paradise. I do not want to do goodness from fear of punishment or for the promise of reward".

Memberi manfaat tak harus selalu dengan materi dan pengetahuan, dengan membagi mood berserah/apa adanya dan terus bersyukur dalam hati juga termasuk memberi manfaat. Alam beserta isinya tercipta apa adanya dan dalam kondisi sebaik2nya. Cara terbaik untuk menjaganya adalah juga dengan sebisa mungkin bersikap apa adanya, kurangi tendensi dan asumsi -apalagi niatan jelek, sempatkan pergi ke tempat yang tidak banyak benda2 buatan manusia; gedung, mobil, gadget, dsb. 

Semua tahap di atas adalah ideal menurut saya dan perlu untuk terus dilakukan sebisa mungkin sebelum waktu kita di dunia materi habis. Berat sekali untuk dilakukan ya, tapi saat yang paling berat nanti akan datang ketika keluarga terkasih setia menemani sementara kita tau kematian sudah segera. But anyway, kematian bisa terjadi kapanpun. Dan karena saya masih merasa takut jika menghadapi saat yang berat itu berarti saya juga masih sangat jauh dari fitrah. Sebentar lagi jutaan orang akan "kembali ke fitrah" dan "meraih kemenangan", bagaimana dengan kamu?

Fitrah

No comments: