10 September 2013

Mute

Delapan tahun berlalu sejak saya membeli kaset untuk terakhir kalinya, kaset itu adalah X&Y (Coldplay), saya beli di Disc Tarra Supermall Pakuwon Indah, Surabaya. Saya dulu memang suka mengoleksi kaset, dimulai dari tahun 1991, kaset pertama yang saya ingat adalah Dangerous (Michael Jackson) yang sampulnya digarap oleh ilustrator terkenal, Mark Ryden. Bukan cuma ilustrasinya saja yang bagus tapi sampul album Dangerous memang detil dan saking panjangnya sampai terdiri dari dua lembar; menggulung sampulnya dan menaruhnya kembali ke wadah plastik kaset dalam keadaan sempurna adalah sesuatu yang cukup rumit bagi otak saya yang masih SD -kerumitan ini bertahan selama 9 tahun sampai saya membeli kaset Kid A (Radiohead) yang panjang sampulnya hampir 80cm.

Entah ingatan saya yang tumpul atau bagaimana, tapi seinget saya awal 90an adalah era dimana di rumah banyak sekali kaset. Almarhum papa punya banyak kaset juga, yang paling sering diputarnya antara lain kaset2 Pance F. Pondaag, Broery Marantika (termasuk yang duet bareng Dewi Yull), Yuni Shara, Milli Vanilli, Swami dan kaset2 kompilasi Blackboard, sedangkan kakak saya yang tertua punya banyak kaset NKOTB dan kaset Dewa 19 era Ari Lasso. Mama tidak pernah punya kaset tapi seringkali nyuruh Papa beli kaset yang pokoknya isinya bukan lagu jeduk2 dan lagu sendu, jadilah Papa membelikan kaset2 Michael Jackson, Michael Bolton, Mariah Carey dan Ebiet G. Ade buat Mama. Kakak laki2  sering minjam kaset2 Green Day pas masih SMP dari temennya dan beli beberapa kaset Tohpati, Korn dan Indra Lesmana pas SMA hingga kuliah.

Sepanjang dekade 90an sampul kaset2 Michael Jackson dan Dewa 19 adalah yang paling saya suka, kesemuanya seakan2 dibuat untuk diteliti (karena artistik dan panjang2). Saya sendiri baru beli kaset pake uang saku sendiri di tahun 2000 yaitu album Morning Glory (Oasis) yang sebetulnya sudah basi karena dirilis lima tahun sebelumnya, kaset itu saya beli bekas dari temen dan masih cetakan pertama yang punya visual berbeda dengan cetakan tahun 2000an. Dalam rentang waktu lima tahun saya aktif beli kaset musisi lokal maupun internasional, total di lemari saya ada sekitar 80 kaset. Mayoritas kaset saya beli di toko kaset terutama Aquarius, tapi ada pula yang saya beli bekas dari temen, ada yang beli di toko buku, beli di penjual kaset emperan, beli di loakan dan bahkan ada pula yang barter yaitu kaset Dizzy Up The Girl (Goo Goo Dolls) yang saya tuker sama kaset Djakarta Goodbye (Lain).

Kaset2 The Beatles era psikedelik adalah beberapa kaset yang susah dicari, tapi diantara semua koleksi kaset saya yang paling susah didapatkan adalah Frances The Mute (The Mars Volta). Saya tau TMV gara2 liat mereka perform di MTV Latin Video Music Awards dan waktu itu penampilan dan musik mereka gila betul, segila2nya pokoknya. Sebetulnya saya punya kesempatan beli album pertama mereka De-Loused In The Comatorium -saya liat kasetnya ada di toko kaset tidak terkenal yang juga jualan kaset2 rohani- sayangnya saya ga bawa duit cukup jadi saya pikir "ah mene ae mampir kene meneh nggowo duit/ah besok saja mampir ke sini lagi bawa uang", tapi kaset itu tidak ada di sana lagi dan sampai taun 2005 saya ga pernah mendapatkan kaset itu. Berbekal pengalaman yang pahit itu saya langsung pasang radar pas TMV merilis album keduanya Frances The Mute di tahun 2005, album keluaran Universal Music Indonesia ini akhirnya berhasil didapatkan setelah minta tolong teman di ITB Bandung untuk membelikannya.

The Mars Volta - Frances The Mute

Sebagaimana X&Y, Frances The Mute juga termasuk kaset2 yang terakhir saya beli. Selepas tun 2005 toko2 kaset pelan2 tutup satu per satu -termasuk Aquarius dan Bulletin- dan yang tersisa cuma Disc Tarra yang sekarang hanya menjual musik dalam format CD. Kegemaran saya membeli kaset juga dipengaruhi oleh dua hal; mp3 bajakan marak dijual dengan harga Rp. 5000 per keping, cuma seperempat harga dari kaset yang waktu itu Rp. 20.000 (Rp. 22.000 untuk keluaran EMI). Karena saya penggemar band2 70an dan kaset band2 jaman itu susah didapat ya saya beralih beli mp3 bajakannya yang banyak dijual di emperan Siola, Surabaya. Sedangkan semakin murahnya internet mempermudah kita untuk mendapatkan lagu2 baru dari aneka band2 baru.

The Mars Volta - Frances The MuteThe Mars Volta - Frances The Mute

Baru di tahun 2010 saya sadar bahwa fenomena di atas-lah yang membuat Steve Jobs mencari solusi (terutama dari sisi bisnis) dan menciptakan karya terbesarnya, karya ter-jenius-nya yaitu iTunes. Tapi tetap saja sensasi membuka dan mengamati sampul kaset -dan juga booklet CD- tidak akan bisa digantikan dengan mendownload booklet PDF. Di film dokumenter Prog Rock Britannia: An Observation In Three Movements salah seorang musisi legendaris menjelaskan bahwa hal yang sama terjadi di awal 80an dimana popularitas vinyl mulai tergantikan oleh kombinasi kaset dan CD -kerumitan desain dan kemasan vinyl album2 prog rock rontok bersamaan dengan menurunnya apresiasi masyarakat pada musik prog rock-art rock dan beralih ke musik disco-elektronik-new wave-pop, mirip dengan kondisi sekarang dimana craftmanship semakin terlupakan.

Saya rasa CD masih akan tetap eksis 10 tahun mendatang tapi kaset (dan vinyl) betul2 hanya akan jadi barang nostalgia atau barang koleksi walaupun didukung dengan Record Store Day dan Cassette Store DaySemakin lama musik semakin sederhana, semakin minimal dengan presentasi yang sama minimalnya -saking minimalnya sampai2 streaming lagu saja mulai jadi bisnis, bisnis musik terbodoh menurut saya. Zaman memang sudah berubah dan mungkin saya juga sudah semakin ketinggalan zaman. Ah sudahlah, para penggemar TMV silakan nikmati video langka konser mereka di Philadelphia memainkan lagu2 di era Frances The Mute termasuk lagu Cassandra Gemini yang berdurasi 32 menit itu:



No comments: