23 September 2013

The Exotic Sounds Of Bali

Rasanya capek juga mendengar kabar2 negatif tentang Bali akhir2 ini; rencana megaproyek reklamasi yang didukung Kepala Daerahnya sendiri (meliputi sirkuit F1, komplek resort dan perumahan, theme park dan sebuah marina), perseteruan antar ormas, krisis air tanah dan kemacetan di Bali Selatan serta kontroversi tidak berguna soal Miss World 2013. Menurut saya Bali bukan lagi sebuah pulau/destinasi wisata saja tapi sudah menjadi merek dagang yang khas. Di postingan ini saya cuma mengambil secuil contoh pengaruh Bali pada musik rock dunia, semoga bermanfaat.

Sebelum supergroup Guruh Gipsy merilis satu2nya album yang pernah mereka kerjakan di tahun 1976, beberapa musisi luar negeri sudah terlebih dahulu ter-Bali-kan. Konon hal ini dipicu oleh tiga hal: kedatangan pelukis Walter Spies ke Bali pada tahun 1927 (yang nantinya juga turut berperan dalam mentransformasi ritual Kecak menjadi atraksi budaya bagi para wisatawan),  penelitian yang dilakukan oleh etnomusikolog Amerika bernama Mantle Hood terhadap musik tradisional Jawa dan Bali pada dekade 50an (termasuk nantinya menghasilkan album rekaman The Exotic Sounds Of Bali di tahun 1963, beberapa paper penelitian dan buku2 tentang musik tradisional Jawa dan Bali), dan film dokumenter BBC -yang dinarasikan oleh environmentalist-naturalist terkemuka Sir David Attenborough- berjudul The Miracle Of Bali (1969). Film ini dibagi menjadi tiga sesi; general info tentang Bali dan budayanya, tradisi ritual-spiritual, dan yang terakhir adalah tentang musik dan tari. Kebetulan juga akhir dekade 60an hingga awal 70an adalah era dimana orang barat sedang sangat tertarik dengan budaya dan bahkan spiritual non-abrahamic (termasuk spiritual India, Jepang dan tribalisme ala Afrika dan Amerika Tengah).

The Exotic Sounds Of Bali

Monkey Chant
Sepengetahuan saya Jade Warrior adalah salah satu band Inggris pertama yang menggunakan elemen musik Bali. Ini terjadi pada tahun 1974 ketika mereka merilis sebuah album jazz-rock-klasik-crossover berjudul Floating World. Sebetulnya konsep album ini sangat-Jepang-sekali karena kalimat "floating world" sepenuhnya diterjemahkan dari istilah Jepang "ukiyo" -istilah yang seringkali dipakai untuk mendeskripsikan gaya hidup urban modern yang mengarah ke hedonisme. Secara keseluruhan tema yang diangkat adalah gaya hidup modern yang membuat manusia "kurang connect" dengan lingkungan sekitar dan perlunya sikap sadar dan ikhlas untuk kehidupan yang lebih baik. Monkey Chant adalah satu2nya lagu berelemen Bali di album ini dan dapat langsung kita tebak bahwa di dalamnya ada rekaman tari kecak asli Bali.

Sound Chaser
Band progressive rock terkemuka Yes memasukkan elemen kecak di lagu Sound Chaser (dari album Relayer di tahun 1974), lagu yang genrenya juga merupakan campuran dari musik jazz dan rock dengan teknik tinggi ala Mahavishnu Orchestra. Sound Chaser bercerita tentang hubungan antara kondisi trance dengan tempo/ritme, hubungan yang sangat umum bagi para praktisi meditasi. Jon Anderson (vokalis Yes) memang dikenal sebagai frontman yang concern pada hal2 spiritual; hal yang selalu dilakukannya sebelum naik ke panggung adalah bermeditasi dengan objek2 berbentuk piramida, kristal, dreamcatcher dan aneka jimat. Jon juga mengaku punya teman imajiner yang disebutnya sebagai "spiritual advisor", sosok pemberi nasehat dan visi untuk melihat ke "dimensi lain". 

Poem For Bali
Di dalam albumnya yang bernuansa jazz-world music, Wendy Carlos mencantumkan sebuah quote dari Vincent Van Gogh "I am always doing what I cannot do yet, in order to learn how to do it"; Beauty In The Beast (1986) bukanlah album yang biasa bagi Wendy Carlos karena dia lebih terkenal dengan karya2 elektronik-klasik menggunakan moog synthesizer. Berdurasi 17 menit Poem For Bali adalah lagu terpanjang  dan seluruhnya direkam menggunakan alat elektronik yang sudah diset dalam skala pelog dan slendro Bali. Tujuh lagu lain yang terdapat di Beauty In The Beast merupakan homage untuk musik2 dengan skala non-mainstream termasuk diantaranya musik ala Afrika, musik jazz, raga rock, dan masih banyak lagi.

The Wind Chimes
The Wind Chimes berdurasi 21 menit dan merupakan salah satu lagu di dalam album Islands (1987) karya musisi rock experimental Mike Oldfield. Selain penggunaan sampling suara tari kecak, Mike juga menggunakan foto formasi tangan para penari Kecak sebagai cover album Islands dan footage tari Kecak juga dimasukkan ke dalam video album The Wind Chimes. 

King Crimson
King Crimson adalah nama sebuah band bukan lagu. Band ini seringkali disebut sebagai band dengan genre progressive rock tapi pada kenyataannya aliran musik yang dimainkannya berubah terus mulai dari progressive rock, symphonic rock dan psychedelic di akhir 60an hingga awal 70an, hard rock di pertengahan 70an, musik tidak jelas yang pokoknya berbasis ritme dan gamelan Bali di tahun 80an, industrial rock di 90an dan 2000an. Band yang dimotori oleh gitaris Robert Fripp ini sangat experimental baik dalam sound, struktur lagu, ketukan dan bahkan cara menyetem gitar. Kegemaran Fripp berexperimen dengan ritme mencapai puncaknya di dekade 80an ketika King Crimson mengeluarkan trilogy album Discipline, Beat dan Three Of A Perfect Pair. Fripp pernah berujar "In African culture or Balinese culture, our approach would be strange. Polyrhythms are only peculiar to a culture which is utterly based on 4/4".

Crystalline
Single pertama dari album Biophilia (2011) ini didominasi oleh instrumen hybrid bernama gameleste (gamelan + celeste). Bjork datang ke Indonesia di tahun 2008 untuk konser album Volta dan sempat mampir ke Bali untuk berlibur. Sebagaimana Beauty In The Beast, Biophilia juga merupakan hasil experimentasi dengan aneka ritme dan skala musik non-mainstream. Bagi yang pernah memainkan apps/aplikasi Biophilia akan sesekali kita temukan notifikasi "Balinese pentatonic" ketika kita berimprovisasi membuat struktur dan skala musik.



No comments: