3 April 2014

Bandara Ngurah Rai Perlu Bus DAMRI!

Bali sekarang semakin ramai, saking ramainya sampai2 membangun jalan tol di atas laut dan underpass di bundaran Simpang Siur. Pengembangan bandara Ngurah Rai juga secara langsung melengkapi infrastruktur yang turut serta mengundang para turis agar berbondong2 datang kemari. Baru2 ini pajak beberapa bandara di Indonesia naik hampir 100% termasuk bandara Ngurah Rai (tadinya Rp. 40000 sekarang menjadi Rp. 75000 per orang untuk penerbangan domestik). Untuk apa saja uang sebanyak itu, saya tidak tahu.

Yang saya tahu sampai sekarang bandara Ngurah Rai belum punya transportasi publik untuk mengangkut para tamu yang telah mendarat di sana. Tamu yang masih lugu-pun harus teliti sebelum membayar ongkos taksi yang besarannya ditentukan berdasarkan zona tujuan itu; kadang penjaga kios asal menyebutkan nominal yang lebih mahal padahal papan daftar harga berada tepat di kiosnya sendiri. Hal ini tentu tidak baik bagi citra Bali sendiri sebagai tujuan wisata terkemuka di Asia Tenggara.

Dengan kapasitas mencapai 25 juta penumpang per tahun, bandara Ngurah Rai adalah yang terbesar di Indonesia hingga saat postingan ini diketik. Sedangkan jumlah penumpang faktual pada tahun 2012 mencapai sekitar 14 juta. Sebagai perbandingan, daya tampung bandara Soekarno-Hatta saat ini adalah 22 juta, bandara Juanda 1 dan 2 12,5 juta, bandara Kuala Namu tahap 1 8,1 juta, dan bandara Internasional Lombok hanya 2 juta. Setahu saya keempat bandara yang disebutkan tadi dilengkapi oleh sarana transportasi seperti bus DAMRI dan bahkan kereta api dari dan menuju ke sana. Mengapa bandara Ngurah Rai yang lebih padat cuma punya taksi?

Meniru beberapa kota besar lain, Bali sebetulnya bisa saja taruh bus DAMRI di bandara Ngurah Rai. Tarif sampai tujuan misalnya Rp. 25000 per orang. Bus diberangkatkan setiap 30 atau 60 menit ke titik pemberhentian masing2 yang bisa dibuat di beberapa lokasi strategis, misalnya:
  1. Kuta: Central Park
  2. Seminyak: Dekat komplek pertokoan Sunset Point
  3. Jimbaran 1: Tempat parkir dekat pantai Muaya di seberang komplek restoran seafood
  4. Jimbaran 2: Garuda Wisnu Kencana
  5. Nusa Dua: Bali Tourism Development Corporation (BTDC)
  6. Sanur: Dekat McDonald's
  7. Denpasar: Terminal Ubung 
  8. Gianyar: Terminal Batubulan
  9. Ubud: Jalan raya Kedewatan
  10. Dan lain2

Pengadaan bus DAMRI yang terjadwal dan titik2 pemberhentian yang bagus akan membawa beberapa dampak positif antara lain:
  1. Konsentrasi taksi di area bandara berkurang karena sebagian besar dialihkan ke titik2 pemberhentian bus DAMRI
  2. Konsentrasi mobil2 hotel yang menjemput langsung tamunya di bandara bisa berkurang
  3. Konsentrasi kendaraan2 pibadi yang menjemput langsung kerabatnya di bandara bisa berkurang. Kendaraan2 pribadi bisa menjemput di titik2 pemberhentian bus DAMRI saja yang lebih dekat dengan rumah penjemput masing2
  4. Area kedatangan/penjemputan jadi lebih tertib dan rapi karena tidak dipenuhi calo taksi dan penjemput dari hotel
  5. Para turis mendapatkan alternatif pilihan transportasi yang murah, mudah dan tetap nyaman karena terjadwal dan dengan rute serta tarif yang jelas

Bus DAMRI juga bisa menggunakan halte bus Sarbagita yang sudah ada dengan cara kerja di bawah ini. Dan dengan begitu akan banyak turis, dengan tujuan dari dan ke bandara, yang sangat terbantu:
  1. Jika bus berangkat dari bandara: bus DAMRI bisa berhenti (maksimum 1 menit) di halte2 bus Sarbagita untuk menurunkan penumpang
  2. Jika bus menuju bandara: bus DAMRI bisa berhenti di halte2 bus Sarbagita (maksimum 1 menit) untuk mengangkut penumpang

Ide2 yang tercantum di sini tidak keluar dari seorang ahli karena saya orang awam biasa saja. Tapi setidaknya saya tidak cuma komplain saja tentang calo2 dan tarif taksi yang tidak jelas -walaupun komplain saja juga tidak apa2 karena saya toh bayar pajak bandara yang mahal itu.

Bandara Ngurah Rai Perlu Bus DAMRI!

No comments: