17 April 2014

Robot

Honda mulai mengembangkan robot sejak tiga dekade yang lalu dan ASIMO versi pertama muncul 14 tahun yang lalu -tak terasa ASIMO sudah seumuran anak SMP. Tahun demi tahun ASIMO didandani ini itu sesuai dengan perkembangan teknologi terkini, hasilnya, ASIMO semakin canggih, semakin pintar, semakin mirip manusia! (kata gimmick pemasarannya). Fenomena ASIMO tidak cuma terjadi di tanah kelahirannya, Hollywood juga tidak ketinggalan membuat film yang kurang lebih terinspirasi ASIMO, Robot & Frank. Film ini bercerita tentang seorang manula yang tinggal hanya ditemani oleh robot asisten pemberian anak2nya. 

Asisten robot. Mungkinkah hal ini jadi realita? Barangkali iya. Robot humanoid semakin lama semakin canggih, sayangnya saat ini kecanggihannya masih mekanis -mungkin karena secara umum robot memang produk mekanik. Bagaimana dengan biomekanik? 50 tahun lagi, 100 tahun lagi bisa jadi ada robot yang isi badannya bukan cuma tuas dan kabel, melainkan DNA, jaringan daging, tulang, dan organ buatan yang dikombinasikan dengan listrik dan sebagainya. Dengan begitu robot masa depan akan lebih "hidup" -selain tentunya lebih pintar- dan pastinya punya daya kognitif yang akan sulit disamai oleh manusia.

Lalu apa yang akan terjadi dengan manusia? Manusia akan punya asisten -setidaknya begitulah ide awal mengapa kita membuat robot. Atau jangan2 skenario lain bisa terjadi: manusia akan jadi asisten bagi robot. Yang pasti, dengan semakin pintarnya robot, mereka akan bisa bertanya "kenapa robot harus jadi asisten bagi manusia?", atau bahkan "kenapa manusia menciptakan robot?". 

Honda selalu memperkenalkan versi terbaru ASIMO dengan mengundang banyak media maupun ahli robot. Dengan klaim bahwa ASIMO yang baru bisa membuka tutup botol, bisa main bola, bisa ngomong, dan sebagainya, para penonton menyambut dengan riuh dan bertepuk tangan. Tapi sampai kapan acara seru itu bisa terus berlangsung? 50 tahun lagi, 100 tahun lagi bisa jadi robot versi lama tidak akan suka dengan kemunculan robot versi baru. Bisa jadi pula ada aneka model robot eksperimental, yang tidak sempat dipublikasikan, memberontak pada manusia lalu memberitahu robot versi terbaru bahwa dia cuma "mainan" para manusia -seperti Prometheus menyadarkan para manusia dari tipu daya dewa2 Olympia.

Jika skenario buruk di atas terjadi, tak ada jalan lain selain mengasingkan salah satu pihak: manusia mengasingkan para robot, atau robot yang mengasingkan manusia. Sebagai pihak yang berada dalam posisi "pencipta", mungkin lebih masuk akal kalau kita yang mengasingkan para robot, mengisolasi mereka di suatu tempat agar kekacauan diantara kedua pihak tidak terjadi lagi. Solusi yang sangat brilian bukan? Nasib para robot berakhir seperti para fallen angels dan kita sendiri: terjebak di bumi.

Robot penulis Bible

No comments: