6 March 2015

Lost Hotels of Indonesia Part II: Hotel Indonesia

Lost Hotels of Indonesia Part II: Hotel Indonesia

Hampir semua penduduk Indonesia pasti tahu Hotel Indonesia; hotel yang namanya dipinjam oleh bundaran paling terkenal di seluruh Nusantara (Bundaran HI). Hotel Indonesia dibangun bersamaan dengan Monumen Selamat Datang (Bundaran HI) dan keduanya rampung di saat yang nyaris bersamaan pula yaitu pada bulan Agustus 1962. Hotel Indonesia diresmikan oleh Presiden Indonesia saat itu, Bung Karno. Kedua bangunan tersebut dibangun dalam rangka menyambut Asian Games 1962 yang diselenggarakan di Jakarta -Jembatan Semanggi, komplek Gelanggang Olah Raga Senayan dan Gelora Bung Karno (berkapasitas 100ribu penonton ketika selesai dibangun), dan pelebaran Jalan MH. Thamrin adalah proyek2 lain yang juga dibangun dalam rangka Asian Games 1962.

Bung Karno menunjuk arsitek Amerika berdarah Denmark, Abel Sorensen, untuk merancang Hotel Indonesia yang mengedepankan desain modern minimalis. Hotel ini terdiri dari dua bangunan utama yaitu Ramayana wing (15 lantai) dan Ganesha wing (8 lantai). Masing2 bangunan diposisikan ke arah yang berbeda dengan tujuan memberikan empat arah pemandangan kota Jakarta. Selain kedua bangunan utama, beberapa ruangan juga dinamai dengan nama Indonesia seperti Bali Room, Reog Room, dan Madura Room. 

Di dalamnya, Hotel Indonesia diisi dengan beragam karya seni Indonesia mulai dari lukisan, topeng, alat musik tradisional, hingga patung2. Beberapa karya seni terkenal yang ada di Hotel Indonesia antara lain relief Gadis-Gadis Bhineka Tunggal Ika karya Soerono (lihat foto makan siang di bawah) dan lukisan karya pelukis Cina, Lee Man Fong. Interior dan furnitur kamar, restoran, dan ruangan lain menggunakan kayu jati asli.

Ada sebuah cerita yang terlupakan tentang latar belakang dibangunnya proyek2 besar di Jakarta pada waktu itu (termasuk Hotel Indonesia); dana pembangunan sebesar $10 juta didapatkan dari Uni Sovyet yang ditukar dengan hasil industri karet Indonesia selama dua tahun. Konon Asian Games 1962 adalah pintu pembuka bagi kepentingan Bung Karno yang lebih utama yaitu menjadi "pemimpin" bagi negara2 non-sekutu. Perlu diketahui setahun setelah megaproyek di Jakarta selesai, Jakarta menjadi tuan rumah Ganefo (Games of the New Emerging Forces), sebuah even olahraga yang dirancang untuk menandingi Olimpiade. 51 negara menjadi peserta Ganefo termasuk diantaranya Cina, Uni Sovyet, Palestina, Kuba, Yugoslavia, Afghanistan, dan lain2.

Lost Hotels of Indonesia Part II: Hotel IndonesiaLost Hotels of Indonesia Part II: Hotel IndonesiaLost Hotels of Indonesia Part II: Hotel IndonesiaLost Hotels of Indonesia Part II: Hotel IndonesiaLost Hotels of Indonesia Part II: Hotel IndonesiaLost Hotels of Indonesia Part II: Hotel Indonesia

Hotel Indonesia menjadi ikon kebanggaan negara dan citra prestisiusnya memuncak dari sejak dibuka pada tahun 1962 hingga akhir dekade 60an. Banyak kepala negara dan diplomat yang menginap di hotel ini, Putri Nusantara (Miss Indonesia) pertama kali diselenggarakan di Ramayana Room, nama Teguh Karya dikenal setelah bekerja sebagai Stage Manager untuk teater Hotel Indonesia. Aktor Slamet Raharjo, aktris Rima Melati dan Christine Hakim adalah beberapa nama yang turut menjadi bagian sejarah teater Hotel Indonesia. Di dunia musik, nama Bill Saragih, Bob Tutupoly, dan Titiek Puspa adalah musisi/penyanyi yang rutin mengisi acara di Nirwana Supper Club -klub malam yang terletak di lantai paling atas Ramayana wing. Pada waktu itu belum banyak klub malam di Jakarta dan mungkin belum ada klub malam di kota lain selain Jakarta. 

Seperti juga Bali Beach Intercontinental Hotel, pada awalnya Hotel Indonesia juga dikelola oleh jaringan hotel terkemuka Intercontinental Hotels hingga hubungan kerjasama berakhir pada tahun 1985. Sheraton mengambil alih manajemen selama beberapa tahun sebelum akhirnya dikelola sepenuhnya oleh PT. Hotel Indonesia International. Kemunculan hotel2 baru seperti President Hotel (kemudian menjadi Nikko dan sekarang Pullman), The Mandarin (sekarang Mandarin Oriental), dan Grand Hyatt di sekitaran Bundaran HI tidak mampu diantisipasi dengan baik oleh PT. HII. Hotel Indonesia akhirnya berhenti beroperasi pada tahun 2004.

Setelah melalui renovasi besar2an selama empat tahun, Hotel Indonesia dibuka kembali pada tahun 2008 sebagai bagian dari Grand Indonesia yang di dalamnya terdapat area berbelanja, gedung perkantoran, dan apartemen mewah. Saat ini kepemilikan Hotel Indonesia ada di tangan PT. Djarum dengan manajemen di bawah kendali Kempinski Hotels selama 30 tahun mendatang. Kempinski adalah jaringan hotel mewah tertua di Eropa asal Jerman. 

Hotel Indonesia ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemda DKI melalui Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No475 tanggal 29 Maret 1993. Untuk mengetahui lebih detail mengenai Hotel Indonesia di masa lalu silakan menyaksikan video yang ada di bagian bawah postingan ini.

Lost Hotels of Indonesia Part II: Hotel IndonesiaLost Hotels of Indonesia Part II: Hotel Indonesia
Lost Hotels of Indonesia Part II: Hotel IndonesiaLost Hotels of Indonesia Part II: Hotel IndonesiaLost Hotels of Indonesia Part II: Hotel Indonesia


No comments: